19 November 2012

SAUDARAKU, BELAJARLAH DARI IBLIS LAKNATULLAH


MUQODIMMAH
Setiap manusia, baik itu muslimim atau kafir, baik beriman atau tidak beriman, baik taat kepada Allah atau melanggar perintah Allah, dan seterusnya pabila disebut nama setan atau iblis pasti berkonotasi jelek dan jahat. Hingga manusia-manusia yang suka bekerjasama jin seperti kahin, dukun, tukang sihir untuk mengelabui para pasiennya tidak mau mengaku bahwa dirinya bekerja sama dengan setan atau iblis. Bahkan mereka menyebut diri dengan ustadz atau kyai walaupun dalam realitanya dia tidak pernah belajar al qur’an , belajar bahasa arab, apalagi membuka hadist bukhari, hadist muslim, atau fathul barri, uhmadhul ahkan, hulughul maram, sunan abu dawud, tirmidzi dll. Bahkan yang dipraktekkan adalah amalan-amalan yang tidak sesuai ajaran rasulullah dan Allah ta’ala. Dengan kata lain, setiap perkataan, perbuatan, pemikiran yang mengandung kemaksiyatan pasti diidentikan itu perbuatan setan atau iblis. Karena begitu besar pengaruh jahat setan ini maka Allah dalam al qur’an berfirman bahwa setan adalah musuh nyata dari manusia, sehingga harus di lawan setiap saat. Harus diperangi setiap waktu, karena bisa jadi dengan talbisnya, setan atau iblis akan menggoda dan mempengaruhi manusia hingga manusia melupakan ketaatan kepada rabbnya dan menuju kehancuran dalam kehidupannya yaitu masuk ke dalam neraka.
Suatu hal yang menarik apa yang dilakukan oleh setan untuk jadi pelajaran hidup bagi manusia. Hal ini bukan berati kita harus mengikuti atau mencontoh apa yang dilakukan oleh setan. Melainkan kita mengambil hikmah dari perbuatan setan tersebut agar manusia tidak mengalami nasib yang sangat fatal baik di dunia atau di akhirat sebagaimana yang dialami setan. Setan, pada mulanya hidup serba enak dan nikmat di dalam syurga. Mereka mendapat kenikmatan yang luar dari Allah Ta’ala untuk menempati syurga dengan berbagai fasilitas yang luar biasa bersama para malaikat. Bahkan pada suatu masa, setan ini mendapat kepercayaan oleh Allah untuk mengelola beberapa hal di surga. Mereka hidup berdampingan, saling hormat, saling menghargai antara keduanya, sehingga kita tidak pernah menemukan satu ayatpun dalam al qur’an atau hadist yang sahih yang mengatakan bahwa setan dan malaikat saling mendebat, saling mengganggu dan saling membuat keributan. Suatu gambaran tentang kehidupan syurga yang penuh kenikmatan dan kedamaian yang jauh dari sifat permusuhan, pertengkaran dan keributan.
Namun tatkala Allah menciptakan manusia, terjadilah fenomena yang luar biasa sepanjang kehidupan makhluk yang ada di dunia ini. Sebelumnya, tidak ada kejadian yang lebih dashyat dari kejadian ini, sehingga Allah Ta’ala dalam firmanNya mengabadikan kejadian ini. Tujuannya tidak lain adalah menjadi ibrah yang sangat agung bagi makhlukNya, terkhusus bagi orang berpikir, ulul albab, ulul abshar ataupun ulun nuha’. Kala itu, Allah menciptakan makhluk yang bernama manusia. Lalu, Allah memerintahkan malaikat dan iblis untuk bersujud dihadapan Adam, manusia pertama ciptaan Allah Ta’ala. Namun, sifat ananiyah iblis yang menggunakan nafsu dan ra’yu (akalnya) merasa dirinya ‘direndahkan’ dihadapan adam alaihi salam. Iblis, menurut nafsu dan ra’yu-nya menganggap bahwa diri mereka jauh lebih tinggi dan lebih mulia dihadapan Adam, mengingat dirinya tercipta dari api sementara Adam alaihi salam hanya tercipta dari tanah.Karena secara nafsu dan akal tanah bisa dikalahkan dan dihancurkan oleh api. Begitu tingginya rasa ananiyah dan kesombongan diri iblis, sampai pada sikap yang sangat tidak etis dan tidak mungkin dilakukan oleh makhluk yang taat kepada Allah Ta’ala yakni melakukan penolakan terhadap perintahNya. Suatu sikap membangkang yang sangat luar biasa, karena yang ditolak oleh iblis adalah perintah Allah Ta’ala, Rabb yang maha sempurna, yang menciptakan seluruh makhluk, yang menguasai dan mengatur alam semesta, yang menghidupkan dan mematikan, yang menguasai di hari pembalasan dan yang mengatur segalanya. Yang ditolak bukan sekedar perintah makhlukNya yang sangat mungkin kedudukannya bisa lebih rendah dari diri iblis, namun yang ditolak adalah Rabb yang mempunyai kedudukan sangat sempurna dan sangat tinggi. Begitu sombong dan tingginya nafsu merasuki diri iblis sampai-samapi dia telah melakukan kesalahan yang luar biasa tersebut, masih saja tidak mau mengakui bersalah terus istighfar meminta ampunan kepada Allah. Sikap sebaliknya yang iblis lakukan, yakni iblis tetap merasa benar dan tidak mau bersujud kepada adam-sebagai bentuk penyesalan dengan menuruti perintah Allah- serta berkata lebih baik tinggal di neraka dari pada harus bersujud dihadapan adam alaihisalam.
Dalam al Qur’an surat al Israa’ ayat 62. Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil." Dalam menafsirkan ayat ini Syaikh Salim Ied Hilaly menjelaskan bahwa iblis mengetahui bahwa dirinya telah mengetahui melakukan pelanggaran terhadap Allah Ta’ala dan di hari akhirat akan Allah balas dengan dimasukkan ke  neraka dan iblis tahu betapa berat siksa api neraka. Akan tetapi iblis tidak mau meminta maaf dan meminta dikurangi beban azab siksa api neraka. Inilah ibrah yang luar biasa dahsyat yang terjadi sepanjang masa. Allah berikan berbagai kenikmatan yang sangat agung, tapi karena nafsu dan ra’yu yang merasuki Iblis,  Allah lemparkan ke tempat yang sangat tidak nikmat yakni dunia. Pembangkangan adalah sumber malapetaka yang membawa pelakunya kedalam kesengsaraan. Jadi, tatkala kebenaran yang berasal dari al qur’an wa sunnah ala fahmi sahabah datang kepada suatu kaum, dan kaum itu menolaknya dengan alasan tidak sesuai logika,  dan tidak sesuai hawa nafsunya, maka bersiaplah menerima azab Allah baik di dunia dan di akhirat.Karena iblis melakukan penolakan didasarkan pada pertimbangan logika dan pengaruh hawa nafsu, maka siapapun yang melakukan penolakan terhadap perintah Allah dan perintah rasulNya dengan logika dan hawa nafsunya, ini merupakan cerminan manusia ini pewaris tabiat iblis. ‘audzubillah min dzalik.
SAHABAT DAN ULAMAPUN BELAJAR DARI IBLIS LAKNATULLAH
Kalimat ini jika salah memahami, maka akan menjadi perkara yang serius dan salah tafsir. Dalam salah satu kaidah ilmu dikatakan bahwa memahami sesuatu bukan dari pemahaman apa adanya sesuai teks, melainkan ada yang harus dipahami secara ma’na terbalik. Sebagai contoh tatkala ulama menjelaskan wajibnya manusia mempunyai sifat tawadhu’ agar di muliakan manusia dan Allah, maka yang dijadikan dalil adalah hadist tentang kesombongan. Suatu saat ada sahabat rasulullah yang memakai pakaian dan sepatu yang bagus. Mereka merasa takut terkena penyakit sombong, karena kesombongan adalah penyebab seseorang terhalang memasuki syurga. Akhirnya, sahabat tersebut mendatangi rasulullah dan menanyakan perkara ini. Lalu rasulullah menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia (HR. Muslim). Dalil ini menurut ulama, tidak sekedar menjelaskan makna kesombongan tetapi juga makna tawadhu’. Karena ke tawadhu’an adalah lawan dari kesombongan dan ketawadhu’an adalah penyebab manusia di muliakan oleh manusia lain dan juga di muliakan Allah dengan diberikan pahala untuk masuk syurga. Para sahabat dan ulama salafush salih  banyak mengamalkan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah Sahabat Ibnu Abbas dengan Sahabat Said Al Kudri.
Sudah mashyur di kalangan muslimin mengenanai Sahabat rasulullah yang bernama Ibnu Abbas. Beliau adalah orang yang mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia karena beliau adalah kemenakan dari rasulullah. Beliau juga seorang sahabat yang meriwayatkan hadist cukup banyak dibawah Abu Hurairah dan ‘Aisyah. Beliau oleh rasulullah disebut orang yang paling tahu masalah tafsir diantara para sahabat lain. Beliau terkenal sebagai pakar di bidang fiqih. Dengan kata lain dia dikenal dikalangan sahabat sebagai orang yang sangat mulia dari nasab dan kedudukan, menguasai banyak hadist, ahli dalam bidang tafsir dan fikih. Namun beliau juga seorang manusia yang tidak ma’sum dan terlepas dari kesalahan. Saat beliau menjadi penguasa dan qadi, beliau pernah bersabda mengenai halalnya melakukan riba fadhl.Perlu dipahami bahwa riba fadhl adalah riba yang terjadi karena seseorang menukarkan barang atau uang dengan harga yang berbeda. Contoh riilnya, seperti saat menjelang lebaran orang menukar uang Rp 1000.000 kepada penukar uang di tepi jalan dengan Rp. 1050000. Beliau membolehkan dan menghalalkan selisih harga yang demikian. Mendengar fatwa tersebut, datanglah sahabat Said Al Kudri menemui Sahabat Ibnu Abbas. Dan terjadilah dialog diantara keduanya. Sahabat Said Al Kudri menyampaikan dalil-dalil tentang larangan riba fadhl yang beliau dengar dari rasulullah. Mendengar penjelasan tersebut, Ibnu Abbas berkata : “Jazaakumullah khayron Ya Abu said. Semoga Allah memasukkan antum ke syurga. Jazakumullah khayran, antum telah memberikan banyak ilmu kepada kami. Mulai saat ini aku beristighfar mohon maaf kepada Allah”
Andai saja Sabahat Ibnu Abbas mengikuti ra’yu dan hawa nafsu serta sikap iblis, maka beliau bisa berkata : saya lebih berkuasa dari antum, saya lebih menguasai ilmu di banding anda, saya adalah orang yang masih punya hubungan dengan rasulullah. Atau minimal akan berkata ya saya terpeleset dalam berkata. Dan secara umum orang akan lebih percaya dengan apa yang diucapkan oleh sahabat Ibnu Abbas di banding Sahabat Said Al kudri karena  Ibnu Abbas sedang berkuasa, dikenal ahli fikih dan ahli tafsir, saudara rasulullah dll.Namun beliau dengan kedalam ilmu dan sifat tawadhu’nya kepada kebenaran yakni kalamullah dan kala rasulullah, maka beliau tidak mau berpikir dan bersifat ala iblis, meski kehormatan, kedudukan, kepandaian, nasabnya yang mulia dia “kurbankan” dengan ucapan sahabat Said Al Kudri yang memang sangat kuat sebagi hujjah. Bahkan sifat tawadhu’ tersebut beliau tunjukkan dengan mengucapkan terima kasih kepada orang yang jauh dibawah dia. Beliau mendoakan kepada Allah agar orang yang memberinya hujjah dalam beramal di masukkan syurga. Dan beliau mengakui bahwa dirinya tidak tahu ada hadist yang mulia masalah riba sehingga mereka mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan sunnah rasul, sehingga ada sahabat rasul yang orangya “biasa-biasa” saja memberikan dalil dari rasul, beliau menerima dan mengucapkan terima kasih. Lalu beliau beristighfar minta apunan kepada Allah Ta’ala. Suatu sikap yang luar biasa berat dan perlu sikap mental yang luar biasa untuk menerima dan menjalaninya. Hal ini hanya ada pada diri orang-orang yang mempunyai sikap tawadhu’ kepada firman Allah dan petunjuk rasulullah. Hal ini juga tidak akan ada pada orang-orang yang hatinya ada kesombongan, pikirannya mendominasi al qur’an wa sunnah, dan mewarisi sikap-sikap iblis. Sikap tawadhu’ hanya terwujud tatkala orang selalu mengingat kematian dan tidak terpedaya dengan kenikmatan-kenikmatan dunia. Sebaliknya, kesombongan akan bersemayan pada orang-orang yang tidak pernah mengingat kematian dan selalu memburu kenikmatan dunia sampai-sampai ruh sudah di leher masih mengingat-ingat dan menginginkan nikmat dunia.
Kisah serupa dengan Sahabat rasulullah Ibnu Abbas dan said Al kudri adalah Kisah ulama besar Imam Ad Daruquthni dan Imam Al Babbari. Imam Daruquthni terkenal sebagai imam besar di masanya, sebagai ahli hadist, ahli Nahwu dan ahli ilmu Qiraat. Sejak kecil beliau sudah sering duduk di majelis ilmu bersama imam-imam besar pada masa itu. Salah satu majelis yang beliau ikuti adalah majelis ilmu yang dipimpin oleh Imam Besar Al Babbari. Suatu saat Imam Al Babbari menyebutkan salah satu hadist dengan mengatakan bahwa hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.....Setelah selesai majelis ilmu tersebut, Imam Daruquthni mendatangi pembantu Imam Al Babbari dan mengatakan imam tersebut telah salah menyebut periwayat hadist tersebut bukan ibnu Hibban melainkan ilmu Hayyan. Pembantu Imam Al Babbari menganggap remeh dan menyalahkan apa yang dikatan Imam Daruquthni yang salah. Namun akhirnya, perkataan Iman Daruquthni disampaikan oleh pembantu tersebut kepada Imam Al Babbari. Dan bisa dimaklumi jika dalam bahasa arab dua hal itu ada kesalahan karena pada masa itu tulisan arab tidak pakai tanda titik atau harakat sehingga huruf ba’ dengan ya’ tidak ada bedanya. Namun, setelah diteliti oleh Imam Al Babbari, ternyata yang disamapaikan Imam Daruquthni muda yang benar. Akhirnya, pada majelis ilmu berikutnya Imam Al Babbari berkata “Afwan hadist yang saya sampaikan kemarin diriwayatkan Ibnu Hayyan bukan Ibnu Hibban. Dan yang memberitahu hal ini adalah seorang anak muda yang duduk disebelah sana.”
Suatu sikap mental yang tidak mudah bagi seorang imam besar yang telah mempunyai pengikut banyak untuk menerima masukan dari seorang anggota majelis yang masih muda dan tidak terkenal kala itu. Namun, Imam Al Babbari adalah ulama yang tawadhu’ dan jauh dari sifat-sifat yang dimiliki iblis yakni kesombongan. Imam Al Babbari lebih memilih menyatakan salah bila memang salah dan tidak tahu apabila tidak tahu, dan menerima dengan ikhlash kalau itu memang hujjah yang sahih walau yang memberikan ilmu adalah anak yang masih muda dan tidak dikenal serta tidak mempunyai kedudukan apa-apa. Imam Al Babbari belajar dari pelajaran iblis laknatullah yang Allah Ta’ala hinakan di dunia dan akhirat karena kesombongan dan sifat ananiyah karena harta, kedudukan, jabatan dll. Imam Al Babbari mengamalkan konsep tawadhu’ dalam majelisnya karena beliau yakin bahwa ketawadhu’an adalah wajib dimiliki oleh seorang muslim agar bisa mencapai kesalamatan dan kebaikan dunia dan akhirat.
PENUTUP
Iblis adalah makhluk Allah Ta’ala yang siapa saja menyebutnya pasti mengidentikannya dengan kemaksiyatan, pembangkangan,kejahatan dan sejenisnya. Siapapun manusia dapat mewarisi sikap iblis tatkala dalam dirinya terdapat kesombongan yakni menolak kebenaran yang difirmankan Allah dan dicontohkan rasulullah dan merendahkan manusia lain. Kesombongan akan hilang tatkala dalam diri manusia dimunculkan sikap tawadhu’ yakni lawan dari kesombongan. Semakin tawadhu’ diri seseorang maka semakin mulia diri orang tersebut dihadapan manusia lain dan dihadapan Rabbnya.
Cukuplah iblis yang menjadi korban akibat sifat kesombongan yang lebih menuruti akal dan hawa nafsunya dibanding petunjuk Allah dan rasulullah. Ambillah ibrah yang besar dari iblis agar kita tidak terjatuh dalam perkara yang sama dengan yang dilakukan iblis yang sebenarnya menjadi musuh yang nyata bagi manusia. Peribahasa arab menagatakan “ aku belajar dari kesalahan orang lain bukan untuk mengikutinya shingga jatuh pada jurang yang sama. Melainkan agar aku tidak mengalami hal yang serupa. Barangsiapa tidak mempelajari kesalahan-kesalahan maka sangat mungkin kita akan melakukan kesalahan yang sama” Wallahu a’lam bissawab.
Sumber : kajian bertema “ tawadhu”  yang diselenggarakan di masjid al huda-petukangan selatan  15 November 2012 bersama Ustadz nuzul Dzikry, Lc, hafidzullah.

Tidak ada komentar: