29 April 2015

MENJAGA LISAN



Lisan merupakan corong hati. Apabila lisan seringkali berkata yang jelek maka dihati manusia tersebut penuh dengan kejelekan.Dalam Qu'an Surat al Isra' ayat 26: jangan sampai anda mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Ayat ini menegasakan tentang larangan berkata dusta dan awal dari kedustaan adalah karena tidak tahu lalu dia berpendapat. Terlebih pada urusan agama 
maka dusta akan sangat berbahaya, mengingat ucapan agama sebagai wasiat.
Dalam Qs. Qaf  ayat 18 ditegaskan tidak keluar dari lisan kecuali 2 malaikat jadi saksi. Rasulullah bersabda : Celaka orang yang dusta dan dengan kedustaannya sehingga  membuat oran lain tertawa. Celaka.celaka. celaka. Agama Islam mewarnai dalam bermuamalah bukan merubah dalam muamalat.
Rasulullah mencontohkan saat mengirim pasukan untuk dakwah ke negara tetangga masing-masing sahabat mempunyai karakteristik sesuai karakteristik penduduk yang di suatu tempat.
Setiap kejujuran akan membawa petunjuk pada kebaikan. Sikap Jujur terjadi secara rutinitas dan tidak dapat sekali dikerjakan tapi terus menerus. Akibatnya orang jujur maupun orang berdusta sama sama mendapat ujian. Akhirnya hanya pensikapan terhadap ujian yang menimpa yang membedakan keduanya.
Kejujuran merupakan lawan dsri berdusta, ujung kejujuran adalah masuk syurga. Urwah bin zubair : adalah salah sahabat rasulullah hingga begitu kayanya sehingga rumahnya terbuat dari akik.
Setiap manusia wajib dalam menjalani hidup dengan menghasilkan buah karya sebagaimana dicontohkan  rasul rasul Allah seperti Ibrahim, Yakub yang dalam hidupnya mempunyai karya hidup yakni anak shalih, ilmu bermanfaat dan harta yang diamalkan.
Seperti kejujuran, maka kebaikan mengirim pelakunya ke syurga. Seseorang dikatakan jujur karena kejujuran dirutinkan.Kebaikan itu berulang ulang dan kejujuranpun berulang baru bisa diujudkan.Tatkala datang suatu cacian dan makian yang tidak tidak benar maka tidak boleh membalas dengsnppan cacian yang tidak benar, keburukan apapun Allah ajan buka. Ibarat bangkai ditengah laut akhirnya akan minggir juga.
Orang yang hidup tanpa menegnal Allah maka Allah tidak akan mengenalkan diriNya sehingga hamba tersebut tidaka ada apa Setiap perbuatan dusta akhir ujungnya di neraka. Bisa terbongkarnya aib seseorang bisa dari diri sendiri.

Sumber :Kajian Ilmiyah Ustadz Subhan Bawazier, Masjid Al Muhajirin Pondok Pucung Tangerang Selatan

LUPA PROFESI UTAMA

Pengantar

Setiap profesi pasti menuntut pelakunya  untuk meluangkan waktu pada profesinya tersebut. Manusia yang mempunyai profesi maka mereks tidak melupakan jenis profesinya karena jika lupa maka kebutuhan sehari harinya tidak terpenuhi. Kalau masalah profesi dunia saja manusia tidak lupa, tapi pada masalah ukhrawi manusia banyak yang melupakannya. Padahal, sungguh sangat sengsara orang yang melupakan profesi utamanya dalam hidup ini, karena kerugiannya akan abadi.
Profesi utama kita adalah sebagai hamba Allah. Semua penghuni langit dan bumi sama tidak beda sedikitpun. Dalam Al Quran Surat Adz Dzariyat ayat 56 Allah berfirman :Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah.

Kunci Keberhasilan Menjalankan Profesi Utama

Kunci agar manusia mampu untuk memahami sebagai hamba Allah adalah memahaminya alasan dan dasar mengenai tujuan sebagai hamba Allah. Dalam. Qs al anam 162ditegaskan bahwa sesungguhnya shalatku,qurbanku, hidupku dan matiku untuk Allah rabbal alamiin. Aplikasi riil konsep hamba Allah yang pertama, adalah dalam brumah tangga. Ada orang yang berumah tangga agar ada yang memasak atau mencuci pakaiannya. Ada pula yang menikah dengan tujuan agar memperoleh keturunan, sehingga banyak anaknya. Jika demikian tujuannya, maka tujuan menikah adalah salah, karena tidak mengaitkan dirinya sebagai hamba Allah. Yang benar sebagaimana dikaitkan dengan sebagai hamba Allah, maka bersikap dan menyikapi untuk ibadah kepada Allah. Konsepnya adalah kewajiban suami harus memberikan nafkah untuk istri dan anak anaknya. Sehingga sebelum berangkat kerja berniat untuk keluarga agar terjaga kehormatannya. Hal ini sebagaimana diterangkan Imam Muslim, rasul bersabda: dinar yang kalian infakan kepada Allah, untuk  memerdekan budak, untuk sedekah fakir miskin, untuk keluarga kalian, yang paling besar pahalanya yang kalian nafkahkan untuk keluarga.
Istri yang paling baik  diantara kalian dalah yang benar benar memahami tugasnya. Imam Ahmad menjelaskan rasul bersabda: seandainya wanita rajin shalat 5 waktu, puasa ramadhan dengan rajin, menjaga kehormatan, dan istri tersebut taat pads suaminya, maka dikatakan kepada wanita tersebut, silahkan masuk surga dar segala pintu yang disukainya. Hal ini mengandung makna bahwa, seorang wanita yang meninggalkan tanggung jawab mengurus rumah atau tidak beres mengurus rumah tangga bisa sebagai penyebab tidak masuk syurga walau dia rajin shalat, rajin puasa maupun amalan sunnah laiinya. Rasulullah pernah bersabda : Perhatikan baik baik kedudukanmu dihadapanmu,ketahuilah suamimu adalah syurga atau nerakamu. (HR.Imam Ahmad).
Aplikasi riil kedua,konsep hamba Allah dalam kaitannya dalam aktivitas kerja. Sebagai atasan, maka harus memperhatiak dua hal. Pertama sdalah memperhatikan kesejahteraan  bawahan, Rasul bersabda : dalam Ibnu Majah: berilah karyawanmu upah sebelum kering  keringatnya. Hal ini penting karena ini perintah agama dan menguntungkan usaha kita. Dalam kesempatan lain, Imam abu dawud menjelaskan rasul berkata : sesungguhnya kalian mendapat rizki dan pertolongan Allah karena ada orang orang lemah di antara kalian. Jangan sewenang.wenang terhadap bawahan atau orang lemah.
Memperhatikan perilaku karyawan. Rasul bersabda: ketahuilah masing masing adalah pemimpin dan akan ditanya masalah kepemimpinan. Kisah Suufyan bin umayah pernah diberikan oleh rasulullah 100 ekor unta, dan belum masuk islam. Ditawari 100 ekor unta lagi, tetap tidak mau masuk islam. Dan baru diberi 300 ekor unta baru masuk islam. Selanjutnya ditarbiyah dan ditalbiyah langsung oleh rasulullah hingga terbentuk sebagai sahabat yang terpercaya. Sampai sufyan berkata dualu sebelum islam muhammad yang aku benci dan sekarang yang paling aku cintai.
Hal ini mengandung kaidah yang agung yakni membolehkan memberi hadiah atau insentif bagi yang berprestasi dalam kebaikan kepada bawahan. Meski bawahan  melakukan hal itu karena dorongan insentif atau hadiah tersebut atau melakukan kebaikan hanya di kantir belaka dan ditempat lain tidak. Kaidah kedua, setelah  dikasih insentif langkah selanjunya adalah dibina dan dididik berkaitan dengan keutamaan melakukan kebaikan.
Konsep  menjadi hamba Allah sebagai bawahan atau pekerja. Ajaran islam  mewajibkan umatnya menjalankan pekerjaan secara profesional dengan hasil yang berkualitas.Semakin paham agama semakin profesional dalam bekerja dan semakin berkualitas dalam berproduksi. Dalinya imam at tabrani menjelaskan nabi bersabda : seorang hamba manakala melakukan perbuatan, maka Allah suka jika hamba menjadikan pekerjaannya baik. Dalam al qur'an tentang kisah Musa menggembala kambing punyanya putri nabi Syuaib. Anak tersebut berkata: jadikan Musa sebagai pekerja, alasannya apa putriku: dia kuat dan mampu untuk bekerja. Juga kisah Nabi Yusuf yang mengajukan diri sebagai  menteri keuangan karena tahu bidangnya dan alim. Kisah lainnya adalah kisah nabi Thalib yang dipilih ileh Allah untuk jadi panglima perang dan ditolak oleh kaumnya  yakni yahudi dan mereka meremehkan posisi Thalud yang miskin dan tidak punya kelebihan apa-apa di mata orang Yahudi. Tapi karena dia kuat dan berilmu maka Allah pilih dia.
Dari kisah ini dapat ditarik simpulan bahwa syarat jadi pemimpin ada 3 yakni kekuatan fisik, kekuatan pengetahuan, dan kekuatan amanah. Setiap aktivitas harus ingat sebagai  hamba Allah. Dan hadirkan dalam setiap kesempatan. Caranya, menuntut ilmu terus menerus.

Sumber : Kajian Ustadz abdullah zein, 24-504-2015,Masjid at Taqwa, kebayoran Baru Jakarta


JANGAN JADI ORANG TERLAKNAT

Kesengsaraan terbesar dari manusia adalah jauh dari rahmat Allah dsn yang terjauh dari 

rahmat Allah adalah jauh dari syurga , sebagaimana setan yang telah dilaknat Allah,

Kalau ingin bahagia kita berperrilaku yang jauh mendatangkan semua laknat baik Allah, 

rasulullah dan manusia.

Sifat sifat yang menyebabkan datangnya laknat adalah :

  Pertama yang membangun kuburan sebagai masjid. Karena masjid adalah tempat ibadah 

bukan untuk ied. Aisyah berkisah pada saat rasul telah sakit keras dan akan meninggal 

dunia, beliau bersabda : Allah melaknat yahudi dan nashara karena mereka telah 

menjadikan kuburan para nabi sebagai ied atau tempat berkumpul kumpul.

Ummu Habibah  dan ummu Salamah bercerita bahwa di gereja gereja  habasyah ada 

gambar, lalu rasulullah bersabda: Jika mereka ada orang salih meninggal dia akan 

membangun patung patung di gereja, kemudian dia menggambar orang salih tersebut dan 

mereka itu seburuk buruk manusia di akhirat nanti. Dan yang tasyabuh akan ikut terlaknat 

juga. Termasuk  umat lain yang non nashara dan yahudi yang menghias, membangun 

diatasnya, menyalakan lampu di makam makam orang yang meninggal.

 Kedua, orang yang melakukan penyembelihan binatang bukan karena Allah atau tidak 

menyebut nama Allah tapi menyebut selain Allah. Hal ini seperti sabda rasul : Allah 

melaknat orang yang menyembelih bukan atas nama Allah. Karena penyembelihan hanya 

untuk Allah atau menyebut asma Allah. Pelaku penyembelihan kepada selain Allah 

adalah bentuk kesyirikan yang diancam masuk neraka,

 Ketiga, orang yang melaknat orang tuanya, baik langsung atau tidak lansung, Hal ini 

seperti sabda rasul: Allah melaknat orang yang melaknat orangtuanya baik langsung atau 

penyebab orang tuanya terlaknat. Hadis lain, rasul bersabda:  Sesungguhnya dosa besar 

yang paling besar adalah anak melaknat orangtuanya. Bagaimana mungkin anak melaknat 

ortunya? Maka rasul menjawab : yakni mencaci orang tua temannya sehingga anak 

tersebut melaknat orang tua si pelaknat tersebut.

 Keempat yang melindungi dan mendukung kaum bid'ah. Rasul bersabda: Allah melaknat 

orang yang mendukung bid'ah. Amalan yang dikerjakan tanpa petunjuk Allah pasti 

tertolak meski banyak dan ikhlas. Bid'ah adalah perbuatan yang paling disenangi iblis 

dibanding perbuatan maksiyat. Karena maksiyat pelakunya masih dapat diharapkan 

perbuatan baik dan taubatnya, sedang pelaku bid'ah pelakunya sulit bertaubat karena 

merasa mendekatkan diri pada Allah.(tsufan ats tsauri)

 Kelima, para pencela sahabat. Rasul bersabds: bangsiapa yang mencaci para sahabatku, 

maka atasnya laknatullah dan malaikat melaknat dan manusia semua melaknat.

 Keenam, durhaka kepada orangtua dan memutus silaturahmi, sebagaimana sabda rasul: 

barangsiapa yang mengaku aku yang bukan orangtuanya atau budak yang memberikan 

wala bukan dari yang membebaskan maka Allah tidak menerima amalan yang wajib atau 

yang sunnah. Contoh : dalam pembuatan akte dan istri menasabkan kepada suami. 

Memutuskan silaturahmi sebagaimana firman Allah Qs Muhammad 122-123 bahwa yang 

memutuskan silaturahmi akan di laknat Allah, akan dibuat buta matanya dan tuli 

telinganya.

 Ketujuh, menyembunyikan ilmu dan menyebarkan ilmu syar'i sebagaimana firman Allah 

159-160: sesungguhnya yang menyembunyikan penjelasan dan petunjuk setelah kami 

jelaskan kepada manusia, mereka itu orang yang dilaknat Allah dan seluruh orang yang 

melaknatnya , kecuali orang yang taubat, memperbaiki, dan menyebarkan ilmu tersebut 

maka mereka orang yang kami terima taubatnya. Ini terjadi karena mereka takut kepada 

masyarakat yang tidak sepaham. Atau dia paham tapi pura pura tidak tahu demi mencari 

kedudukan dihadapan manusia

 Kedelapan, orang yang mati dan murtad dalam keadaan kafir. Manusia yang lahir dalam 

keadaan bertauhid, lalu orang tuanya yang menyebabkan yahudi atau nashara atau majusi. 

Maka kewajiban ortu mendidik dan memberi fasilitas ke dalam tauhid. Ini investasi yang 

akan kembali ke orangtuanya yakni anak shalih. Qs Albaqarah 161: orang kafir dan mati 

dalam keadaan kafir maka akan mendapat laknat Allah, laknat malaikat dan seluruh 

manusia yang melaknat,

 Kesembilan, membunuh jiwa muslimin dengan sengaja.Darah seorang muslim adalah 

terlindungi. Qs an nisa' 93: barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan 

sengaja, maka balasannya neraka jahanam yangg kekal di dalamnya, Allah murka 

atasnya, Alah melaknatnya.

 Kesepuluh, orang yang melakukan keonaran atau menakut-nakuti orang yang tinggal di 

kota Madinah. Sabda rasulullah: barangsiapa yang menakut nakuti kepada penduduk 

madinah dengan kedzaliman maka Allah akan menakut nakutinya sehingga Allah, 

malaikat dan manusia melaknatinya, bahkan Allah tidak menerima amalannya yang wajib 

dan sunnah,

 Kesebelas, orang yang bermuamalah dengan sistem riba. Allah dan rasulNya menyatakan 

perang terhadap para pelaku riba. Dalam Qs al baqara ayat 278-279, wahai orang yang 

beriman, tinggalkan perbuatan riba, jika kalian orang beriman dan jika tidak mau 

meninggalkan riba maka Allah dan rasul menyatakan peran terhadapnya. Dengan 

mengambil pokoknya tanpa tambahan maka kalian tidak dzalim dan didzalimi. Rasul 

bersabda: Allah melaknat orang yang memberi, memakan, menulis dan menjadi saksinya. 

Orang yang suka riba akan menurunkan azab Allah. Thabrani  meriwayatkan bahwa rasul 

bersabda: apabila telah nyata riba dan zina di suatu wilayah maka sesungguhnya dia telah 

menghalalkan azab Allah datang. Sabda rasul: tidaklah seseorang banyak berbuat riba dan 

hartanya banyak, maka Allah akan membalasnya kekurangan hingga seluruhnya habis.

 Kedua belas, orang yang mengubah batasan tanah. Rasul dalam hadist riwayat imam 

muslim menjelaskankan : Allah melaknat orang yang mengubah batasan tanah. Barang 

siapa mengambil sejengkal tanah secara dzalim maka Allah akan mengalungkan 7 lapis 

bumi di akhirat.

 Tiga belas, wanita yang menolak ajakan suami. Sabda nabi: apabila suami mengajak istri 

ke tempat tidur dan istri menolak dg alasan apapun sehingga suaminya marah, maka 

wanita itu dilaknat malaikat hingga subuh atau suami ridha.

 Ke empat belas, suami yang menyetubuhi istri dari duburnya. Sabda rasul : dilaknat 

seorang suami mendatangi istrinya dari duburnya.

 Kelima belas, orang yang menggauli binatang, sabda rasul : bunuh pelakunya dan 

binatangnya,

 Keenam belas, pelaku liwa' yakni homo seksual. Imam ahmad, ibnu hakim, Allah 

melaknat orang yang melakukan perbuatan yang di lakukan kaumnya nabi luth

 Ketujuh belas, pelaku pencurian, sabda nabi : Allah melaknat orang yang mencuri sebutir 

trlur dan seutas tali. Pemotongan tangan ada syarat tertentu

 Kedelapan belas, wanita yang menyambung dan meminta rambutnya disambung

 Kesembilan belas, wanita yang mentato dan di tato. Rasul melaknat wanita yang mentato 

dan di tato

 Dua puluh, wanita yang menyerupai laki laki atau sebaliknya, sabda rasul, rasul melaknat 

laki laki yang menyerupai wanita atau sebaliknya, baik dalam bentuk fisik, pakaian, 

perbuatan.

Sumber : Kajian bersama ustadz Hamzah Baraba, Di Masjid Puri Beta, Ciledug

HIDUP HANYA SEKALI, JANGAN SALAH JALAN

Pengantar

Seorang hamba Allah, baik itu yang suka berbuat maksiyat atau yang berbuat kebaikan sama-sama tidak mau dirinya dimasukkan ke dalam golongan terlaknat. Karena sikap terlaknat adalah sikap yang aling dibenci dan dijauhi oleh setiap insan yang mempunyai akal. Apalagi yang mempunyai harga diri. Namun persoalan berikutnya akan muncul. Kalau kita tidak ingin jadi orang terlaknat, lalu apakah laknat itu? Apakah laknat hanya terjadi dihadapan manusia selama di dunia atau juga laknat Allah kepada diri kita akan juga ditemui di akhirat? Dan, jangan-jangan tanpa sadar dan tanpa kita ketahui, sesungguhnya kita ini lagi menapaki jalan-jalan orang yang akan mendapat laknat dihadapan Allah kelak.

Terlaknatnya  Dunia 

Rasulullah dalam suatu hadist yang diriwayatkan Imam Ath Thabrani menjelaskan : Perhatikan bahwa dunia dan sesuatu yang ada di dalamnya semua terlaknat kecuali dzikrullah, kebaikan, menuntut ilmu dan orang berilmu. Dari hujjah ini sangat jelas bahwa hampir semua urusan dunia kecuali keempat hal itu dikategorikan terlaknat dimata Allah. Dan orang yang terjatuh dalam kesibukan urusan dunia dengan meninggalkan keempat perkara tersebut maka telah memasuki pintu keterlaknatan. Beberapa perkara yang wajib diperhatikan bagi seorang muslim berkaitan dengan hal ini adalah sebagai berikut :

·     Pertama, seorang muslim harus mempunyai mindset bahwa hidup tujuannya untuk akhirat. Jika ada yang tidak menguntungkan akhirat maka segera ditinggalkan. Kalau kita melakukan sesuatu untuk akhirat maka Allah akan mencukupkan urusan dunia dan dunia hina bagi dirinya. Sebaliknya, barangsiapa semangat hidupnya untuk dunia semata maka Allah cerai beraikan urusannya, Allah akan jadikan rasa kurang di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang padanya kecuali yangg ditetapkan. Sebaliknya, orang  yang orientasi hidupnya pada akhirat, maka Allah akan tenangkan dan diberi kedamaian hatinya, rezeki dan urusan dunia akan Allah cukupkan, dan urusan akhiratpun akan Allah mudahkan. Dunia sendiri artinya dekat dan rendah.Hal ini sebagaimana sabda  Rasul bersabda yang diriwayatkan oleh Jabir: “ Suatu saat rasul masuk pasar ditemani oleh sahabat. Ditengah pasar rasulullah  melihat bangkai anak kambing dan telinganya cacat. Lalu rasulullah bertanya kepada para sahabat “ siapa yg ingin membeli bangkai kambing ini seharga satu dirham? Sahabatpun menjawab :” kami tidak mau, ya rasulullah”. Nabi menjawab : “ Demi Allah, dunia ini lebih hina dan lebih  jelek bagi Allah di banding bangkai ini bagi kalian “.
Berkaitan dengan harta, dalam islam, manusia boleh bergelimangan harta. Namun tujuannya untuk meraih kemuliaan akhirat, sehingga mengejarnya jangan sampai lupa daratan. Hal ini sangat penting karena rasulullah mensinyalir bahwa : akan datang suatu masa dimana manusia tidak peduli cara mencari rizki, sehingga yang syubhat dan harampun dilakukan. Sedangkan agar paham menjalani kehidupan dunia, maka akan bisa sukses bila dimulai dengan ilmu.
Ada yang luar biasa mulia dan agungnya tentang kisah hidup manusia yang dituturkan oleh rasulullah. Pada hari kiamat nanti aka nada dua orang dengan kondisi yang berbeda, namun mempunyai kesamaan dalam menikmati kenikmatan syurga. Orang pertama adalah orang yang selama hidupnya di dunia bergelimang kenikmatan. Lalu, Allah berkehendak mencelupkan orang ini kedalam  neraka dalam waktu sebentar. Lalu Allah bertanya :”Apakah kamu pernah hidup enak” Kemudian orang itu menjawab : “tidak pernah , Ya Allah.”. Lalu, orang kedua,  orang yang selam hidupnya di dunia seumur-umur menderita. Tidak pernah mendapati kenikmatan dalam hidupnya.Lalu Allah berkehndak memasukkan orang itu kedalam neraka. Dan Allah bertanya :”Pernahkah kamu merasakan kesengsaraan hidup ?” Kemudian orang ini menjawab : “tidak, Ya Allah”(HR. Tabrani)

·    Kedua, Ingatlah nikmatnya syurga  dan dahsyatnya siksa neraka. Bayangkan betapa ngerinya neraka. Panas api neraka adalah 70  atau 99 kali lipat panasnya api terpanas di dunia. Ingatlah syurga senantiasa dikelilingi oleh sesuatu yang tidak menyenangkan,  sedangkan neraka dikelilingi oleh perkara yang  menyenangkan. Ingat pula sabda rasul bahwa dunia penjara bagi orang muslim dan syurga bagi kaum kafirin

·     Ketiga, Ingatlah bahwa manusia dalam menapaki hidup melalui fase kehidupan manusia. Syaikh Utsaimin dalam syarah aqidah wasihtiyah menjelaskan sebelum menjadi manusia terlebih dahulu berupa nutfah dan berkembang menjadi segumpal daging dan diletakkan dalam Rahim dan seterusnya, sebagian ada yang diwafatkan hingga pikun.
fase kehamilan (QS.Adz Dzumar) : menciptakan manusia dalam 3 kegelapan. Fase kehidupan di dunia (an nahl 78): keluar dari rahim tanpa kenal apapun lalu Allah berikan penglihatan, pendengaran dan akal agar bisa bersyukur. Jika tidak bisa menggunakan maka lebih jelek dari binatang(Qs Al a’raf 79)
Fase Alam barzah /al mukminum 100: alam barzah di belakang dunia di dunia diuji siapa yang paling baik amalnya. Sukses adalah selamat dari siksa neraka dan masuk syurga dan ada ucapan selamat dari malaikat. Di alam ini di tanya siapa tuhanmu, apa agamamu, siapa rasulmu dan apa ilmumu. Alam barzah di sana ada azab dan siksa kubur.
Fase akhirat (QS. al mu'minum 1). Kalian mati semua dan akan dibangkitkan. Kalau kita melihat semua urusan dari perspektif agama maka semua tidak ada yang sia-sia. (Qs.Al imran 14) : telah dijadikan keindahan wanita, harta benda, pertanian sebagai fitrah manusia. Tapi dengan jalan yang halal, dipakai untuk yang diridhai Allah. Karena yang lalai maka itu kerugian.

·    Keempat, bagaimana kita menempuh jalan hidup. Dari Abdullah bin Mas'ud, rasulullah menulis garis lurus. Inilah jalan Allah yang lurus. Lalu menggambar garis-garis lain disebelah kanan dan kiri, ini jalan setan yang akan menyesatkanmu. Sesungguhnya fitnah ditawarkan hati sedikit demi sedikit. Yang menerima akan ada noda hitam maka hati akan terkena fitnah setan . Yang menolak akan putih sehingga hatinya tidak terpengaruh. Jalan yang terlarang adalah  jalan yang terkena fitnah syubhat dan syahwat. Syubhat berkaitan dengan keyakinan yang rusak, sedang syahwat sadalah segala sesuatu yang menghalangi kebaikan. Qs At Taubah menjelaskan  : jalan yang harus dilalui yakni jalannya para kaum al muhajirin dan al anshar . Qs Al baqarah 37 menjelaskan wajibnya mengikuti jalan para kaum muhajirin dan anshar. Sebaliknya Qs An Nisa 17:  “ siapa yang menentang rasul dan mengikuti jalannya orang tidak beriman maka akan dibiarkan tersesat dan masuk neraka.

Enam perkara dalam jalan lurus

 Enam perkara  dalam  menjalani jalan yang lurus yakni :

(1) Lillah beribadah semata-mata karena dan untuk Allah. Seandainya semua beribadah untuk Allah maka tidak menambah kekuasaannya. Atau sebaliknya, seandainya semua makhluk tidak taat kepada Allah maka tidak mengurangi keagungan dan kemuliannya.

(2) Billah memohon kepada Allah dalam ibadah dan mengakui kemudahan dari Allah. Beritahukan amalan yang bisa memasukkan syurga dan jauhkan dari neraka.

(3)  Fillah yakni beribadah dengan mengikuti tuntunan Allah dan rasulullah. Sebagaimana kisah tiga orang yang ghuluw dalam ibadah hingga disindir oleh rasulullah bahwa rasullullah juga nikah, juga puasa, juga tidur.

(4)     Khauf, takut pada azab Allah dan amal kita tidak diterima Allah. Solusi berdoa kepada Allah sehingga tidak sombong

(5)  Radja berharap dari rahmad Allah dan ampunan Allah. Jangan sampai harapan yang salah yakni irja', yaitu tertipu seperti orang melempar biji jagung dan duduk-duduk dan harapannya panen satu ton.Qs.  Al Baqarah 218 berkisah tentang konsep beriman, jihad dan hijrah yang mengharap ridha Allah.


(6)  Mahabah yakni cinta bukan dengan keterpaksaan. Sebagian manusia membuat tandingan melebihi cinta pada Allah. Dan orang beriman lebih mencintai Allah.  Allah dan rasul lebih dicintai, mencintai sesama karena Allah, orang membenci kesesatan yg pernah dilalui sebagaimana dia tidak mau dilempar ke dalam api. Inilah yang akan mendapatkan manisnya iman.

Disampakaikan oleh ustadz Mahfudz Umri, Masjid Immanuddin, Graha Raya Bintaro

TATKALA AHLUL SUNNAH BERDALIL


PENGANTAR :

Seringkali diantara seorang muslim mendengar perkataan’kenapa membacakan alqur’an dikuburan tidak boleh? Bukankan membaca al quran untuk orang yang mati adalah kebaikan? Atau tatkala ada orang yang baru pindah rumah lalu mengadakan acara syukuran dengan disertai ritual baca surat yasin dan shalawatan, saat ditanya apa yang mendasari perbuatan tersebut, maka mereka akan bertanya balik : “apakah salahnya membaca surat yasin dan shalawatan saat saya pindah rumah?” Dan masih banyak amalan-amalan yang serupa, tapi tatkala ditanya dasar atau alasan dalilnya jawabannya menurut pikiran atau perasaan pribadi. Jauh meninggalkan dari Sunnah yang dijarkan Allah, rasulNya, dan amalan para tiga generasi terbaik umat ini.
Nah dalam uraian berikut, akan diuraikan dan dibahas secara lebih rinci, bagaimana sih sesorang itu berhujjah dakam setiap amalan sehari-hari. Karena amalan yang tidak ada hujahnya maka kita akan terjatuh pada perbuatan dosa. Sedang kalau berhujah tidak mengikuti hujahnya rasulullah dan para sahabat maka kita akan masuk kedalam amalan yang salah dan tertolak..

BEDA CARA BERDALIL ANTARA AHLUL SUNNAH DENGAN AHLUL BIDA’

Manfaat  dari memahami perkara ini  adalah tatkala mendapati permasalahan agama, maka ahlul sunnah dalam manhaj ini mampu membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Dengan demikian siapapun yang yang keluar dari manhaj ini, yakni yang keluar dari hujjah yang sahih  berarti mengada ada dalam agama.
Syaikh Anis Bin  Hadzir  berkata : jika kalian mendapati suatu permasalahan dalam masalah agama maka ambillah  3 jalan yakni, pertama, mengumpulkan semua dalil yang ada dalam permasalahan tersebut baik dalam al qur an atau as sunnah, kedua yakni mencari dalil dalil yang sahih yang dapat dipergunakan untuk permasalahan tersebut, tinggalkan yang lemah, ketiga, mencari dalil yang paling cocok dalam permasalahan ini. Hal ini sangat penting karena ada sebagian orang salah dalam penempatan dalil. Contoh : dzikir berjamaah yaitu  dipimpin oleh seseorang lalu yang mengikuti. Dia menggunakan hadist lemah dengan alasan faidhatul amal. Memang sebagian ulama boleh menggunakan hadist lemah berkaitan dengan faidhatul amal. Tapi pendapat ini banyak kelemahannya. Diantaranya :  hadist lemah tidak bisa dijadikan hujjah atau dijadikan sandaran hukum dengan alasan : pertama, hadis yang diterima, hadist sahih, lighairi, hasan. alasan kedua : mencari hadis hadis sahih. Hadist sahih sudah mencukupi kenapa cari yang lemah, Alasan ketiga: tidak ada manfaatnya ulama membuat perbedaan hadis hadist. Alasan keempat, ulama:  jumhur yang mengatakan boleh tapi dengan  syarat harus bersandarkan hadist sahih. Alasan kelima, ketika mengamalkan hadist lemah harus meyakini nabi tidak melaksanakan.

KONSEP AHLUL SUNNAH  DALAM  BERDALIL

 1.  Ahlul sunnah berdalil sangat memegang dalil syar'ii dari Allah dan Rasul. Dan sering dituduh tekstual,  islam adalah tauhid yakni satu satunya yang berhak disembah yakni Allah, tunduk patuh kepada Allah semata, berlepas diri dari syirik dan pelakunya  Qs Azzumar : 54 (Kitab Tauhid Muhammad Bin Abdul Wahab) Qs Annur ( 51-56) menjelaskan orang islam jika diajak kembali kepada Allah maka hanya berkata samina wa ataqna.
Ibnu mas ud berkata : kembali kedalam kebenaran lebih baik daripada tetap dalam kebatilan. Qs Annisa' 65: Demi tidak sama sekali, sampai kamu menjadi hakim dalam perkara, hingga mereka tidak menerima dengan keberatan.
Contoh bagaimana para salafush shalih mengagungkan dalil dalil dari Allah : sabda nabi : seluruh sifat malu adalah kebaikan. Lalu Busyail bin Kabail : kita mendapati sifat malu dalam kitab -kitab hikmah itu wibawa tapi dalamnya terdapat kelemahan. Imran marah lalu berkata rasul  sifat malu adalah kebaikan lalu berkata : aku tidak ingin sekali kali melihat kamu bicara menentang rasul tatkala aku membaca hadist hadist rasul. Dan diulangi berulang ulang. Hingga temannya berkata. Dia bukan munafik.

Rasul bersabda jangan kalian larang istri- istri ke masjid untuk shalat jamaah di masjid. Bilal Abdullah Bin Umar. Demi Allah kami melarang istri istri kami pergi ke masjid. Lalu abdillah berkata langsung mencaci maki anaknya dengan cacian yang buruk. Wahai anakku aku lagi berkata kepada kalian lalu kamu tentang.

Abdullah Bin Abbas , rasul tatkala haji mengerjakan tamatuk, lalu abu zubair berkata, abu bakar dan Umar melarang haji tammatu'. Abdullah berkata : aku melihat kalian akan binasa tatkala perkataan rasul kalian pertentangkan dengan umar dan abu bakar. Bakr Abdillah Bin Usain : berkata abu bakar tidak pernah disiksa, dan di janjikan syurga, tapi orang kaya dan tidak disiksa tapi keimanan mereka melebihi  sahabat lain yang disiksa. Abu baka tidak terkenal  karena banyak ibadah, tapi karena keimanan hati mereka.

seorang berkata kepada azh zhuhri : wahai abu bakar, hadis rasul berbunyi, bukan dari kami yang memukul pipi ''lalu al zuhri menundukkan muka dengan lama lalu berkata ilmu dari Allah, rasul menyampaikan dan kita mengimani.
Ibnu Qoyim berkata : asal fitnah ada dua yakni fitnah syubhat dan fitnah syahwat.

2.     Mereka sangat teliti dalam mengamalkan sunnah. Abdurazzaq meriwayatkan dalam kitab as shallah, said ibnu musyaid pernah melihat seseorang shalat setelah adzan subuh lebih dua rakaat. Lalu ditanyakan kenapa melakukan itu, lalu di jawab : apakah Allah akan menyiksaku saat aku shalat? Sayid menjawab, Allah tidak menyiksamu karena shalat, tapi menyiksamu karena melanggar sunnah.
Pernah sesoorang bertanya pada Imam Malik, wahai imam abu abdillah, dari mana aku berihram, imam malik menjawab mulai dari miqod, lalu berkata lagi, wahai imam malik aku mau miqod di makam rasulullah, dijawabnya, aku takut kamu kena fitnah dan dosa. Di jawab, aku hanya menambah beberapa jarak. Imam malik berkata : dosa apalagi yang lebih besar daripada kau mendahului amalan yang tidak dilakukan rasulullah. Kalau itu baik nisacaya mereka yang mendahului. QS Annur : 62 dijelaskan  hati hati yang menselisihi rasul tidak akan diterima amalannya di dunia dan akhirat. Hati hati menselisihi sunnah rasul, karena akan disegerakan siksanya

3.     Memakai dalil sahih dalam beramal dan menghindarkan memakai dalil dalil yang lemah

Kajian ini disampaikan oleh : Ustadz Ahmad Zaenuddin, Masjid Assunnah Bintaro , 10 April  2015


TABLIGH AKBAR TAUHID PRIORITAS PERTAMA DAN UTAMA


Bersama Fadhilatush Syaikh Abdurrozaaq Al Badr
15 Maret 2015, Masjid Istiqlal Jakarta

·         Amalan hanya diterima Allah jika hanya di dasari tauhid. Amalan akan hapus tatkala tidak ada tauhid. Tidak ada yang menghalangi amalan kecuali ke kufuran. Hanya untuk Allah agama yang lurus. Janganlah beribadah kecuali untuk Allah.
·         Tauhid adalah hak Allah kepada hamba. Yang mengamalkan akan beruntung di dunia dan akhirat. Begitu sebaliknya. Sebagaimana perkataan Muadz bin Jabbal saat dibonceng oleh rasulullah yang kala itu rasulullah menjelaskan hak hak Allah kepada hamba dan hak-hak hamba kepada Allah. Ini keagungan tauhid..maka akan mulia di dunia dan akhirat  dan sebaliknya. Barangsiapa yang keluar dari tauhid maka telah keluar dari kemuliaan. Maka harus lebih utama dalam tujuan dan orientasi hidupnya. Keadaan hakiki tidak akan diperoleh oleh orang yang tidak menegakkan ketauhidan di muka bumi.
·         Barangsiapa yang tidak bertauhid maka akan timbul cerai berai segala urusannya, seluruh perkaranya sia-sia dan hatinya galau sebagaimana firman Allah:” Hatinya tidak tenang, urusan rusak. Ketenangan dan kesempurnaan hidup manusia  hanya dapat diraih dengan cara  mentauhidkan Allah.
·         Tauhid adalah agama Allah. Seluruh aqidah yang bukan dari Allah tetapi dengan manusia yang membuatnya adalah dari ra'yu dan perasaan. Aqidah di permukaan bumi dari Allah dan dari manusia. Yang bukan dari Allah maka Allah tidak terima. Sebagaimana  dakwah Nabi Yusuf di penjara bersama sahabatnya.”Sesungguhnya yang kau ibadahi adalah yang dibuat oleh orang tua mereka.” Demikian juga dal QS Al Furqon tentang kisah manna yang dikatakan sebagai laki laki dan perempuan. Agama yang mulia yakni yang mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah semata.
·         Perkara tauhid, agama yg sangat sesuai dengan akal sehat. Akal sehat meyakini bahwa Dia tidak ridha dengan tandinganNya seperti pohon dan kuburan. Manusia diberikan dengan akalnya yang sehat tidak akan membuat tandingan kepada Allah. Zaid bin Amr Mufazid seorang  jahiliyah berkisah tentang tauhid, kambing berasal dari Allah dan air juga berasal dari Allah. Tapi mengapa mereka tidak menyembah Allah.  Lalu Rasulullah berkata Zaid bin Amr Mufazid akan di bangkitkan menjadi umat yang besar yang mentauhidkan Allah. Jadi, hilangnya ketauhidan pada seorang hamba maka rusaklah akalnya sebagaimana para pemuja kuburan dan pepohonan.
·         Bahwasanya hamba tidak akan aman dan tenang serta bahagia kecuali yang bertauhid. Dalam Alquran dikisahkan tentang Lukman bertanya pada anaknya tentang syirik kepada Allah.Dan Kedzaliman terbesar adalah syirik kepada Allah. Dzalim adalah mencampuri ibadah dengan kesyirikan.. Allah menggantikan ketakutan dengan keamanan dengan syarat beribadah hanya dengan mentauhidkan Allah. Allah akan hadirkan pemimpin yang baik hanya dengan menegakkan tauhid..
·         Tauhid merupakan kebaikan dan kemuliaan yang terbaik dan termulia secara mutlak. Seluruh kebaikan hanya terhenti apabila tidak didasari tauhid. Syirik merupakan keburukan yang paling buruk. Sesungguhnya adanya syirik menyebabkan tidak diterima dan menghapuskan amalan
·         Tauhid adalah kunci sedang pintunya adalah syurga. Oleh karenanya tidak  akan terbuka pintu syurga apabila tanpa tauhid. Manusia kafir tidak  akan dibukakan pintu langit. Ibarat unta masuk lubang jarum. Ini asas dan pondasi sangat agung dalam ajaran islam.
·         Tauhid memiliki faedah dan keutamaan banyak. Seluruh kebaikan dan keberkahan hanya dengan tauhid.

HAKEKAT TAUHID

·         Tauhid maknanya mengesakan Allah, menjadikan Allah dalam sifat dan hak hak Allah. Kekhususan yang hanya dimiliki Allah adalah  Dia yang mencipta, yang mengatur, menjaga, mematikan serta memuliakan. Seluruh perintah, seluruh makhluk akan tunduk pada atūran Allah, Dia yang membuat hamba itu pada keadaan kaya, atau miskin, tertawa atau menangis. Barangsiapa yang mengalihkan hak hak Allah maka telah mensekutukan,  dan telah membatalkan tauhid.
·         Diantara keputusan Allah adalah nama-nama Allah dalam al quran ayat asma ul huzna.. Didalamnya terdapat nama mulia maka berdoalah dengan menyebutNya, Biarkanlah yang melenceng akan diberi balasan. Siapa berdosa dan asmanya maka Allah akan terima. Jangan buat buat nama yang menyamai Allah. Kita tetapkan nama dan sifatnya untuk Allah sebagaimana Allah tetapkan. Dan beriman kepada rasulullah sebagaimana maksud rasulullah beriman. Dilarang beriman melampui batas. Barangsiapa yang menyamakan Allah dengan yang bukan untuk Allah maka dia menyimpang dan membatalkan tauhidnya.
·         Hak Allah yang paling agung adalah agar manusia hanya beribadah dan mengikhlaskan ibadahnya pada Allah.. sebagaimana firman Allah sesungguhnya shalatku, ibadahku, shalatku, hidup dan matiku hanya untuk Allah. Hal ini mengandung makna bahwa wajib bagi hamba untuk mengesakan Allah. Tidak boleh berdoa, menyembelih, bernadzar kepada selain Allah dan harus mengikhlaskan dan mencari ridha Allah. Maka barangsiapa yang berdoa diakhir hayat selain untuk Allah maka pasti masuk neraka.
·         Tauhid makna laa illa ha illa llah. Dalam kalimat ini terdiri dari nafi /menafikkan dan isbath/menetapkan. Kedua-duanya harus ada dan menyatu. Mengesakan ketaataan yakni memperhatikan ucapan, makna dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap dzikir ada tauhid. Setelah shalat ada 3 dzikir lailla ha illa llaah. Kita memperbaharui tauhid dengan dzikir. Tiap dzikir memperkuat  ketauhidan. Tauhid menjauhi pola orang kafir walau kita dibencinya. Tauhid adalah suci .Hanya untuk Allah agama yang khalis atau bersih. Definisi tauhid. Tidak ibadah kepada Allah, hanya kepadanya kita beribadah dan khalis semata untuk Allah. Dan kita wajib amalkan dan kita perhatikan dalam setiap doa
·         Kita akan paham bahwa tauhid terdiri dari 3 pondasi: meyakini yang memberi rezeki, yang mematikan dll, tauhid sifat  dan asmanya, dan beribadah hanya untuk Allah. Ada yang bertolak belakang atau bermusuhan dengannya. Yakni menyandarkan kepada selain Allah yang mengatur, memberi rezeki.melawan asma wa sifat ada dua yaitu pertama,  mengingkari nama dan sifat. Kedua menyamakan Allah dengan makhlukNya. Barangsiapa memalingkan sesuatu kepada selain Allah maka dia telah mensekutukan dan menghancurkan tauhidnya.
·         Kita benar benar serius masalah tauhid dengan cara mengamalkan sehari hari. Ini masalah yang paling besar dan menyempurnakan tauhid sehingga akan di masukkan ke syurga tanpa azab dan hisab. Sebagaimana sabda rasul bahwa ada 70000 orang yang masuk syurga tanpa hisab yakni orang yang tidak thathayur, tidak mintapengobatan dengan key, tidak meminta diruqyah. Agar bias masuk syurga tanpa hisab caranya jauhkan dari syirik, jauhkan dari bid'ah dan maksiyat.
·         Yang merusak tauhidketahudian ada dua macam, yakni ada yang membikin tauhid kurang dan ada yang membatalkannya. Berkurang dari kesempurnan tauhid.
·         Dia menjauhkan dari penghalang tauhid. Yang berhasil tauhid maka dia yang berhasil mencapai ridha Allah
·         Penjagaaan maksiyat yakni menjauhi dan menghindari
·         Sisi nawaqiq pembatal tauhid dan menghaguskan tauhid : syirik akbar yaitu menyamakan selain Allah sama dengan Allah dalam perkara-perkara kekhususan Allah dan hak-hak hanya milik Allah. Penduduk neraka menjerit  karena membatalkan tauhid. Saat di dunia menyamakan Allah, sebagaimana orang kafir menyamakan sesuatu dengan Allah dan itu membatalkan tauhidnya.
·         Kufur akbar yakni mendustakan Allah dan rasulullah atau yang dari Allah dan rasulNya. Tauhid seorang hamba akan gugur disebabkan kesombongannya, kayak iblis saat menolak sujud pada adam. Berpaling dari mempelajari ilmu Allah, tidak mau mendengar. Kita ragu kepada apa yang datang dari Allah.
·         Hal yang membatalkan tauhid, adalah munafik akbar. Munafik adalah kekufuran. Munafik tempatnya dalam neraka paling bawah, dhahir beriman tapi dadanya menyimpan kekafiran. Jika ketemu orang beriman mengaku beriman, jika bersama setan mereka maka akan ikut setan.
·         Sedangkan  nifaq termasuk kufur kecil yang akan mengurangi tauhid dari kesempurnaan. Syirik kecil yang tidak sampai menyebabkan pelakunya jatuh pada syirik besar, misal bersumpah selain Allah. Atau perkataan Allah dan juga kau, kalau tidak ada pelaut kita tenggelam. Kekufuran kecil contohnya sabda rasulullah : dua golongan umatku yang terjatuh dalam kekufuran yakni berbangga nasab dan menghujat orang lain karena nasab. Nifaq kecil, bicara dusta, janji tidak tepati, diberi amanah maka khianat itu pertanda kena penyakit syirik kecil, maka bagi muslim harus berhati-hati menjaga tauhid. Kita berharap ketemu Allah dengan tauhid yang sempurna.
·         Dalam Alquran ada keterangan tentang tauhid dengan sempurna, Sebagai hujjah. Sesuatu yang sangat agung ada dalam al quran, ayat kursi sebagai surat yang paling agung, al Iikhlas semua ada keterangan sempurna tauhid, al Baqarah dan al fatehah. Menyempurnakan ketauhidan dengan al quran. Al quran adalah intisari kitab dan inti sari dakwah seluruh nabi adalah tauhid. Rasul bersabda : Kami para nabi ibarat saudara satu ayah, tapi berlainan ibu –bunya, setiap kalian kami jadikan syariat dan manhaj-manhaj.

·         Memahami dan mempraktekkan tauhid melebihi dari pada makan dan minum serta kebutuhan dunia. Karena akhirat berdiri atas ketauhidan.

06 Agustus 2013

SHALAT SUNNAH YANG SESUAI SUNNAH NAMUN BELUM BANYAK DIPAHAMI BAHKAN SERING DIABAIKAN OLEH SEBAGIAN KAUM MUSLIM (III)

BENTUK-BENTUK WITIR DAN JUMLAH RAKA’ATNYA

Oleh : Dr Said bin Ali bin Wahf Al-Qathani.

Witir memiliki jumlah raka’at dan bentuk-bentuk yang bermacam-macam sebagai berikut.
[a]. Sebelas Raka’at, Dengan Salam Pada Setiap Dua Raka’at Dan Berwitir Satu Raka’at.
Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang menceritakan : “Rasulullah biasanya shalat malam sebelas raka’at, berwitir dari shalat itu dengan satu raka’at” Dalam riwayat lain : “Rasulullah biasanya shalat antara usai shalat Isya –yakni yang disebut sebagai atamah- hingga fajar sebanyak sebelas raka’at, mengucapkan salam antara dua rak’aat, dan berwitir satu raka’at” [1]
[b]. Tigabelas Raka’at, Setiap Dua Raka’at Salam, Dan Berwitir Satu Raka’at  Dasarnya adalah hadits Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan cara shalat Nabi. Dalam hadits itu tercantum : “… Maka akupun berdiri di sebelah kiri beliau. Tiba-tiba beliau meletakkan tangan kanan beliau di atas kepalaku, dan memegang telingaku serta memutar tubuhku hingga berada di sebelah kanannya, kemudian beliau shalat dua raka’at, dua raka’at, dua raka’at, dua raka’at, dua raka’at dan dua raka’at, kemudian beliau melakukan witir, lalu berbaring hingga datang muadzin. Setelah muadzin datang, beliau bangkit dan shalat dua raka’at ringkas, kemudian baru beliau keluar menuju jama’ah dan shalat shubuh” [2]
Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia menceritakan : “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam tiga belas raka’at, kemudian baru keluar untuk shalat shubuh. [3]
Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani Radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia pernah berkata : “Aku betul-betul memperhatikan shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam hari. Beliau shalat dua raka’at ringkas, kemudian shalat dua raka’at yang panjang sekali, panjang sekali, panjang sekali, kemudian shalat lagi dua raka’at, namun tidak sepanjang yang pertama. Kemudian shalat lagi dua raka’at, juga tidak sepanjang dua raka’at yang sebelumnya. Kemudian shalat lagi dua raka’at namun juga tidak sepanjang dua rakaat sebelumnya. Kemudian shalat lagi dua raka’at, namun tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya. Kemudian baru beliau melakukan witir. Jumlah semuanya tiga belas raka’at” [4]
[c]. Tiga Belas Raka’at, Dengan Salam Pada Tiap Dua Raka’at, Dan Berwitir Lima Raka’at Sekaligus
Dasarnya adalah hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang menceritakan : “Rasulullah apabila shalat malam, melakukannnya tiga belas raka’at. Dari semua itu beliau berwitir lima raka’at, hanya duduk di akhirnya saja” [5]
[d]. Sembilan Raka’at Hanya Duduk Di Raka’at Kedelapan, Kemudian Langsung Masuk Raka’at Kesembilan.
Dasarnya adalah hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang menceritakan : “Kami biasa menyiapkan siwak dan air bersuci beliau. Allah membangunkan pada waktu yang Allah kehendaki di waktu malam. Beliau bersiwak dan berwudhu, lalu shalat sembilan raka’at, hanya duduk di raka’at yang kedelapan. Lalu berdzikir kepada Allah, berdo’a kepadaNya (tahiyyat pertama), kemudian baru bangun dan tidak mengucapkan salam. Kemudian beliau bangkit dan melakukan raka’at kesemblian. Setelah itu baru beliau duduk dan berdzikir, bertahmid dan berdo’a kepada Allah (tahiyyat kedua), kemudian salam dengan suara yang dapat kami dengar” [6]
[e]. Tujuh Raka’at Dengan Tanpa Duduk Kecuali Diakhirnya.
Dasarnya adalah hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang tercantum di dalamnya : “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah berusia lanjut dan mulai gemuk, beliau shalat dengan witir tujuh raka’at” [7]
Dalam riwayat lain : “Hany duduk di akhirnya saja “ [8]
[f ]. Tujuh Raka’at Dengan Hanya Duduk Pada Raka’at Yang Keenam Dasarnya adalah hadits Aisyah Radhiyalahu ‘anha, yang menceritakan : “Kami biasa mempersiapkan siwak dan air wudhu Rasulullah. Lalu beliau bangun dalam waktu yang Allah kehendaki di malam hari. Kemudian beliau bersiwak dan berwudhu, baru kemudian shalat tujuh raka’at, hanya duduk di raka’at keenam, lalu duduk dan berdzikir kepada Allah
serta berdo’a” [9]
[g]. Lima Raka’at Dengan Hanya Dududk Diraka’at Terakhir
Dasarnya adalah hadits Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Witir itu hukum yang berlaku bagi setiap muslim. Barangsiapa yang suka melakukan witir lima raka’at, hendaknya ia melakukannya. Dan barangsiapa suka melakukan witir 3 raka’at maka lakukanlah. Dan barangsiapa yang suka berwitir satu raka’at hendaknya ia melakukannya” [10]
Telah diriwayatkan dengan shahih dari hadits Aisyah Radhiyallahu anha, bahwa bentuk shalat semacam itu dilakukan secara sekaligus dengan hanya duduk di raka’at kelima saja. Dalam hadits itu tercantum : “Dalam shalatnya itu beliau berwitir lima raka’at, dengan hanya duduk di raka’at terakhirnya” [11]
[h]. Tiga Raka’at Dengan Salam Setelah Dua Raka’at, Kemudian berwitir Satu Raka’at
Dasarnya adalah hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia menceritakan :
“Nabi biasa memisahkan antara raka’at genap dan ganjil dengan salam yang dapat kami dengar” [12]
Telah diriwayatkan dengan shahih dari Abdullah bin Umar secara mauquf. Dari Nafi’, bahwa Abdullah bin Umar biasa melakukan witir dengan salam antara dua raka’at pertama dengan satu raka’at terakhir, sehingga beliau sempat memerintahkan beberapa hal dari kebutuhannya [13] Hadits mauquf itu bisa menguatkan hadits marfu’. Penulis sendiri pernah mendengar guru kita Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah tentang Witir tiga raka’at, bahwa itu dilakukan dengan dua kali salam : “Itu lebih utama, bagi orang yang ingin shalat tiga raka’at, dan inilah yang mendekati kesempurnaan” [14]
[I ]. Tiga Raka’at Secara Langsung, Dengan Hanya Duduk Diraka’at Terakhirnya
Dasarnya hadits Abu Ayyub Radhiyallahu ‘anhu yang tercantum di dalamnya : “Barangsiapa yang ingin berwitir tiga raka’at, hendaknya ia melakukannya” [15]
Juga hadits Abdullah bin Ka’ab Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu witir membaca ” Sabbihis Marabbikal A’la”, pada raka’at kedua membaca ” Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun”. Dan pada rakaat ke tiga membaca ” Qul Huwallahu Ahad” Usai salam, beliau mengucapkan ” Subhanal Malikil Quddus” tiga kali [16]
Akan tetapi tiga rakaat itu beliau lakukan sejaligus, dengan hanya satu kali tasyahhud di akhirnya.
Karena kalau dilakukan degan dua kali tasyahud, akan mirip dengan shalat Maghrib [17]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang shalat sunnah diserupakan dengan shalat Maghrib [18], berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan bahwa beliau bersabda : “Janganlah kalian berwitir tiga raka’at. Berwitirlah lima rakaat atau tujuh raka’at. Jangan serupakan dengan shalat Maghrib. [19]
Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahulah menggabungkan antara hadits-hadits dan riwayat yang membolehkan witir tga rakaat dalam penafsiran bahwa ketiga rakaat itu dalam shalat hingga akhir, dengan hadits-hadits yang melarang witir tiga raka’at dalam penafsiran bahwa itu dilakukan dengan dua kali tasyahud, hingga menyerupai shalat Maghrib” [20]
Di antara dalil yang munnjukkan. Witir tiga rakaat adalah hadits Al-Qasim dari Abdullah bin Umar, bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda : “Shalat pada waktu malam itu dua-dua raka’at. Bila engkau hendak menyelesaikannya, hendaknya shalat satu raka’at itu bisa menjadi witir dari shalat yang sudah kamu lakukan”.
Al-Qasim menyatakan : “Kami sendiri pernah melihat banyak orang semenjak kami nalar, yang melakukan witir tiga raka’at. Sesungguhnya masalah ini cukup luas. Aku kira tidak ada yang salah dari semua cara itu. [21]
[j ]. Satu Raka’at                                   
Dasarnya adalah hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Witir adalah satu raka’at di akhir malam” [22]
Dari Abu Mijlaz diriwayatkan bahwa ia menceritakan : “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma tentang witir. Beliau menjawab : “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Satu raka’at di akhir malam”. Aku juga pernah bertanya kepada Ibnu Umar. Beliau menjawab : “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Satu raka’at di akhir malam” [23]
Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa itu merupakan dalil sahnya witir dengan satu raka’at, dan dianjurkan untuk dilakukan di akhir malam” [24] Penulis sendiri pernah mendengar Imam Abdul Aziz bin Baz menyatakan : “Akan tetapi semakin banyak jumlah raka’atnya, semakin baik. Namun bila hanya melakukan satu raka’at saja, juga tidak makruh” [25]
Di antara yang menunjukkan bahwa witir satu raka’at itu boleh adalah hadits Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu, di situ tercantum.
“Barangsiapa yang suka berwitir satu raka’at, hendaknya ia melakukannya” [26]
__________
Foot Note
[1]. Diriwayatkan oleh Muslim dengan no. 736
[2]. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Witr, bab : Riwayat Tentang Witir, no. 992, demikian juga beberapa jalur riwayat lain, no. 117, 138, 6316. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab : Shalat Nabi dan Doa Beliau pada Malam Hari, no. 182, 763
[3]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab Shalat Nabi dan Do’a Beliau di Malam Hari, no. 764
[4]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab Shalat Nabi dan Do’a Beliau di Malam Hari, no. 765
[5]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab Shalat Malam dan Jumlah Raka’at Nabi pada Malam Hari, bahwa witir itu Satu Raka’at, no. 737.
[6]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab : Jami’u Shalati no. 746 [7]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab : Jami’u Shalati no. 746 dan ini adalah bagian dari hadits itu.
[8]. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam kitab Qiyaamul Lail dan Tathawwu di Siang Hari, bab : Witir Tujuh Raka’at, no. 1718, dishahihkan oleh Al-Alabni dalam Shahih An-Nasa’i I : 375. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad VI : 290 dari hadits Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha dengan lafazh : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berwitir tujuh atau lima raka’at, tidak memisahkannya dengan ucapan atau salam. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya dalam kitab Iqamatush Shalah, bab : Riwayat tentang witir, lima, tujuh atau sembilan raka’at no. 1192, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah I : 197
[9]. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya {ihsan] dengan no. 2441. Al-Arnaaut menyatakan dalam catatan kaki Ibnu Hibban VI : 195 : “Sanadnya shahih berdasarkan persyaratan Al-Bukhari dan Muslim, lafazhnya adalah lafazh Muslim. Diriwayatkan juga oleh Ahmad yang senada dengan itu I : 54
[10]. Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan no. 1442. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dengan no 1712. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan no 1192. Dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya [ihsan] dengan no. 670. Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al- Mustadrak I : 302-303
[11]. Diriwayatkan oleh Muslim dengan no. 737
[12]. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban [Ihsan} dengan No. 2433,2434,2435. Diriwayatkan  juga oleh Ahmad II : 76 dari itab bin Ziyaad. AL-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan dalam Fathul Baari II : 482 :"Sandanya kuat". Al-Albani Rahimahullah menyatakan : "Hadits ini memiliki riwayat penguat yang marfu'. Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa melakukan witir dengan memisahkan antara dua raka'at dengan satu raka'at". Sanadnya Shahih, berdasarkan persyaratan Al-Bukhari dan Muslim. Beliau juga menisbatkan hadits ini kepada Ibnu Abi Syaibah. Lihat Irwaaul Ghalil II : 150.
[13] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Witr, bab : Riwayat Tentang Witir, no. 991. Diriwayatkan juga dalam Al-Muwatha’ Imam Malik I : 125.
[14] Penulis mendengarnya secara langsung ketika beliau menjelaskan Ar-Raudhul Murbi II : 187 tertanggal 1:11: 1419H.
[15] Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan no. 1422. Diriwayatkan oleh An-Nasa’I dengan no. 1712. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan no. 1192. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan no. 670. Diriwayatkan oleh Al-Hakim I : 302
[16] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam kitab Qiyamullail dan Shalat Sunnah Siang, bab Ikhtilafin naqilan li khabar Ubay Ibnu Ka’b fii witri 1201 dan dishahihkan dalam Shahih Sunnan An-Nasa’i oleh Al-Albani 1/372, dan lihat Nailul Authar 2/211, dan lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar ada syawahid disana 2/481 dan Nailul Authar Asy-Syaukani 2/212.
[17] Saya dengan ini dari Imam Abdul Aziz Ibnu Baz ketika mensyarah Ar-Raudh Al-Murbi’  2/188 dikala membasah witir 3 rakaat dengan satu salam, beliau berkata : “Namun jangan diserupakan dengan Maghrib, langsung saja”.
[18] Lihat Asy-Syarh Al-Mufti Al-’Alamah Ibn Utsaimin 3/21.
[19] Ibnu Hibban (Al-Ihsan] 2429, Ad-Daruquthni 2/24, Al-Baihaqi 3/31, Al-Hakim menshahihkan dan disetujui Adz-Dzahabi 1/304, Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath 2/481, isnadnya sesuai syarat Syaikhan berkata dalam At-Talkish 2/14 no. 511 isnadnya semuanya tsiqat dari tidak mengapa pemauqufan orang yang mengnggapnya mauquf.
[20] Lihat Fathul Baari Syarah dari Shahih Al-Bukhari, oleh Ibnu Hajar II :481 dan juga  Nailul Authar oleh Asy-Syaukani II : 214.
[21] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan ini lafazhnya dengan no. 993. Diriwayatkan oleh Muslim dengan no. 743 dan telah ditakhrij sebelumnya.
[22]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab : Shalat Malam Itu Dua-dua Raka’at, Dan Witir Itu Satu Raka’at di Akhir Malam no. 752
[23]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab dan bab yang sama sebelumnya no. 753
[24] Syarah Muslim oleh An-Nawawi VI : 277
[25] Penulis mendengarnya sendiri dari penjelasan Syaikh terhadap Ar-Raudhul Murbi’ II: 185
[26] Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan no. 1422. Diriwayatkan juga oleh An-Nasa’i dengan no 1712. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 1190
[Disalin dari Kitab Shalatut Tathawwu' Mafhumun, wa Fadhailun, wa Aqsamun, wa Anwa'un, wa Adabun Fi Dhauil Kitabi was Sunnah, edisi Indonesia Kumpulan Shalat Sunnah dan Keutamaannya, oleh Dr Said bin Ali bin Wahf Al-Qathani, Penerbit Darul Haq]
———————————————————————————–

SUNAT RAWATIB DAN PENEGASAN SHALAT DUA RAKA’AT FAJAR.

Oleh : Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam.
Shalat fardhu memiliki sunat-sunat rawatib, yang disebutkan dalam As-Sunnah yang shahih dan suci, baik berupa perkataan, perbuatan maupun pengakuan dari pembawa syari’at.
Shalat sunat rawatib ini mempunyai faidah yang besar dan pahala yang agung, nerupa tambahan kebaikan, ketinggian derajat, penghapusan keburukan, menambal kekosongan dan menyempurnakan kekurangannya. Karena itu harus ada perhatian terhadap shalat rawatib ini dan menjaganya ketika berada di tempat. Adapun ketika dalam perjalanan, tidak pernah disebutkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adanya satu shalat rawatib kecuali dua rakaat fajar. Beliau tidak pernah meninggalkannya, baik ketika menetap maupun ketika dalam perjalanan.
“Dari Abdullah bin Umar Radhyallahu ‘anhuma, dia berkata, ‘Aku pernah shalat dua rakaat sebelum Zhuhur bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Jum’at, dua rakaat sesudah Maghrib dan dua rakaat setelah Isya’”
adapula riwayat yang lain:
“Barang siapa yang sholat empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka diharamkan baginya api api neraka”. (SHAHIH. HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, di Shahihkan oleh Albani)
“Dalam suatu lafazh disebutkan, ‘Adapun (rawatib) Maghrib, Isya’, Fajar dan Jum’at dikerjakan di rumah beliau”.
“Dalam lafazh Al-Bukhary disebutkanm bahwa Ibnu Umar berkata, “Aku  diberitahu Hafsah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat dua rakaat yang ringan setelah fajar menyingsing, dan itu merupakan saat aku tidak menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
MAKNA GLOBAL
Didalam hadits ini terkandung penjelasan lima shalat sunat rawatib, bahwa untuk shalat Zhuhur mempunyai empat rakaat, dua rakaat sebelumnya dan dua rakaat sesudahnya, shalat Jum’at mempunyai dua rakaat sesudahnya, shalat Maghrib mempunyai dua rakaat sesudahnya dan shalat Isya mempunyai dua rakaat sesudahnya. Rawatib Maghrib, Isya’, Shubuh dan Jum’at dikerjakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam rumah.
Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu mempunyai hubungan yang erat dengan rumah  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena kedudukan saudarinya, Hafsah di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu dia dapat masuk ke tempat beliau saat beribadah, tetapi tetap memperhatikan adab, sehingga dia tidak masuk kecuali hanya sesekali waktu saja dan tidak masuk pada saat-saat yang tidak diperkenankan, karena mengikuti firman Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali (dalam satu hari) yaitu sebelum shalat Shubuh…” [An-Nur : 58]
Dia tidak masuk ke tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat-saat shalat Shubuh, kendatipun dia ingin tahu shalat yang dikerjakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Karena didorong keinginan untuk mendapatkan ilmu, maka dia bertanya kepada saudarinya, Hafshah tentang hal itu, lalu Hafshah memberitahu
kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat dua rakaat secara ringan setelah fajar menyingsing dan ini merupakan shalat sunat.
KESIMPULAN HADITS.
[1]. Anjuran melaksanakan shalat-shalat rawatib tersebut dan menjaganya.
[2]. Shalat Ashar tidak mempunyai rawatib dibandingkan dengan rawatib-rawatib yang ditegaskan ini.
[3]. Rawatib-rawatib Maghrib, Isya’, Shubuh, Jum’at lebih baik dikerjakan di rumah.
[4]. Meringankan dua rakaat Fajar
[5]. Disebutkan dalam sebagian hadits shahih bahwa Zhuhur mempunyai enam rakaat, Empat sebelumnya dan dua sesudahnya. Disebutkan riwayat At-Tirmidzi dai haditsUmmu Habibah secara marfu’, “Empat rakaat sebelum Zhuhur dan sesudahnya”.
[6]. Sebagian dari rawatib-rawatib ini dulakukan sebelum shalat fardhu sebagai persiapan jiwa orang yang shalat untuk ibadah sebelum masuk ke fardhu. Sebagian rawatib dikerjakan sesudah fardhu untuk melengkapi
kekurangan dalam fardhu.
“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata, Tidak ada satupun shalat nafilah yang lebih diperlihara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selain dari dua raka’at Fajar” .
“Dalam lafazh Muslim disebutkan, “Dua rakaat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya”
MAKNA GLOBAL
Di dalam hadits ini terdapat penjelasan terhadap penegasan dua rakaat fajar. Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menguatkannya dan mengagungkan urusannya dengan perkataan dan perbuatan beliau. Dalam hal ini Aisyah berkata, “Tidak ada satu pun dari shalat-shalat nafilah yang lebih dijaga dan dipelihara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi, seperti halnya dua raka’at fajar”
Beliau juga bersabda bahwa dua rakaat fajar ini lebih baik daripada dunia dan seisinya.
KESIMPULAN HADITS
[1]. Shalat sunnat (dua rakaat) fajar ini sangat ditekankan sehingga tidak boleh
diabaikan.
[2]. Keutamaannya yang agung sehingga beliau menganggapnya lebih baik dari dunia dan
seisinya.
[3]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga dan memberikan perhatian lebih banyak terhadap dua rakaat fajar daripada yang lainnya.
[4]. Mengabaikan dua rakaat fajar menunjukkan kelemahan agama dan keengganan
mendapatkan kebaikan yang besar.
[Disalin dari Kitab Taisirul Allam Syarh Umdatul Ahkam edisi Indonesia Syarah Hadits Pilihan Bukhari-Muslim Oleh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam, hal 122-126 Darul Falah]
————————————————————————————–

ADAKAH SHALAT SUNNAH QABLIYAH JUM’AT?

Oleh : Wahid bin ‘Abdis Salam Baali.

Di antara kaum muslimin ada yang setelah mendengar adzan pertama langsung berdiri dan mengerjakan shalat dua rakaat sebagai shalat sunnah Qabliyah Jum’at.
Dalam hal ini perlu saya katakan, saudaraku yang mulia, shalat Jum’at itu tidak memiliki shalat sunnah Qabliyah, tetapi yang ada adalah shalat Ba’diyah Jum’at.
Memang benar telah ditegaskan bahwa para Sahabat radhiallahu ‘anhuma jika salah seorang dari mereka memasuki masjid sebelum shalat Jum’at, maka dia akan mengerjakan shalat sesuai kehendaknya, kemudian duduk dan tidak berdiri lagi untuk menunaikan shalat setelah adzan. Mereka mendengarkan khuthbah dan kemudian mengerjakan shalat Jum’at.
Dengan demikian, shalat yang dikerjakan sebelum shalat Jum’at adalah shalat Tahiyyatul Masjid dan shalat sunnat mutlaq.
Dari Salman radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “ Tidaklah mandi seseorang pada hari jum’at dan berwudhu, dan memakai wewangian, kemudian keluar seraya tidak memecah-belah 2 orang (melangkahi pundak orang2), kemudian sholat sedapatnya, kemudian ia diam mendengarkan imam berkhotbah, melainkan diampuni dosanya antara Jumat tersebut denagn jumat yang lain” (SHAHIH, HR Bukhari dan Nasa-i, dishahihkan oleh Al Albani, lihat kitab “Seleksi hadist2 Shahih tentang Targhib dan Tarhib Imam Mundziri, takhrij hadist syaikh Imam Al Albani).
Dari hadist tersebut, jelaslah dalilnya mengenai adanya sholat sunnat menunggu saat khutbah dimulai dan ini bukanlah sholat qobliyah jum’at sebagaimana yang di fahami sebagian orang.
Dan hadits-hadits yang diriwayatkan berkenaan dengan shalat sunnah Qabliyah Jum’at adalah dha’if, tidak bisa dijadikan hujjah (argumen), karena suatu amalan Sunnah itu tidak bisa ditetapkan, kecuali dengan hadits yang shahih lagi dapat diterima.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Atsqalani rahimahullah mengatakan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Hibban melalui jalan Ayyub dari Nafi’, dia mengatakan, “Ibnu ‘Umar biasa memanjangkan shalat sebelum shalat Jum’at dan mengerjakan shalat dua rakaat setelahnya di rumahnya. Dan dia menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan hal tersebut.”
Hadits ini dijadikan hujjah oleh an-Nawawi dalam kitab, al-Khulaashah untuk menetapkan shalat sunnah sebelum shalat Jum’at seraya memberikan komentar, bahwa ucapan Ibnu ‘Umar, “Dan dia biasa melakukan hal tersebut,” kembali pada ucapannya, “Dan dia mengerjakan shalat dua rakaat setelah shalat Jum’at di rumahnya.” Dan hal itu ditunjukkan oleh riwayat al-Laits dari Nafi’ dari ‘Abdullah bahwasanya jika telah mengerjakan shalat Jum’at dia kembali pulang untuk kemudian mengerjakan shalat sunnah dua rakaat di rumahnya dan selanjutnya dia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan hal tersebut.” Diriwayatkan oleh Muslim.
Adapun ucapannya, “Ibnu ‘Umar biasa memanjangkan shalat sebelum shalat Jum’at,” maka yang dimaksudkan adalah setelah masuk waktu shalat sehingga tidak bisa menjadi marfu’, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ke masjid jika mata-hari sudah tergelincir lalu beliau menyampaikan khutbah dan setelah itu mengerjakan shalat Jum’at. Jika yang dimaksudkan adalah sebelum masuk waktu shalat, maka yang demikian itu merupakan shalat sunnah mutlaq, dan bukan shalat rawatib. Dengan demikian, tidak ada hujjah di dalamnya yang menunjukkan adanya shalat sunnah Qabliyah Jum’at, tetapi ia merupakan shalat sunnah mutlaq.
Dan telah disebutkan adanya anjuran melaku-kan hal tersebut -seperti yang telah disampaikan sebelumnya- di dalam hadits Salman dan lainnya, yang di dalamnya dia mengatakan, “Kemudian dia mengerjakan shalat yang diwajibkan kepadanya.”
Selain itu, ada juga hadits-hadits dha’if yang diriwayatkan berkenaan dengan shalat sunnah Qabliyah Jum’at, di antaranya adalah dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan lafazh, “Dan beliau biasa mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Jum’at dan empat rakaat setelahnya.” Di dalam sanadnya terdapat kelemahan.
Dan dari Ali juga terdapat hadits yang semisal yang diriwayatkan oleh al-Atsram dan ath-Thabrani di dalam kitab al-Ausath dengan lafazh, “Beliau biasa mengerjakan shalat empat rakaat sebelum Jum’at dan empat rakaat setelahnya.” Di dalam sanad hadits ini terdapat Muhammad bin ‘Abdurrahman as-Sahmi, yang menurut al-Bukhari dan perawi lainnya, dia adalah seorang yang dha’if (lemah). Al-Atsram mengatakan, “Ia merupakan hadits yang waahin.”
Juga masih ada hadits lainnya yang senada dengan itu, dari Ibnu ‘Abbas dan dia menambahkan, “Beliau tidak memisahkan sedikit pun darinya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad waahin (lemah). Di dalam kitab al-Khulaashah, an-Nawawi mengatakan, “Sesungguhnya ia me-rupakan hadits bathil.”
Dan ada juga hadits yang semisal dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani, di dalam sanadnya terdapat kelemahan dan inqithaa’ (keterputusan). Al-Albani rahimahullah mengatakan, “Semua hadits yang diriwayatkan berkenaan dengan shalat sunnah Qabliyah Jum’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak ada yang shahih sama sekali, yang sebagian lebih dha’if dari sebagian yang lain. [1]

MENINGGALKAN SHALAT SUNNAH BA’DIYAH JUM’AT?


Di antara kaum muslimin ada yang meninggalkan shalat sunnah Ba’diyah Jum’at, baik karena malas maupun karena tidak tahu. Dan sebagian lagi tidak mengetahui bahwa shalat Jum’at itu memiliki shalat sunnah ba’diyah.
Diantara mereka ada juga yang tidak mau mengerjakan sholat ba’diyah jum’at dengan dalil Firman Allah :
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al Jumu’ah ayat 10)
Ada seseorang yang selama dua puluh tahun tidak pernah mengerjakan shalat sunnah Ba’ diyah Jum’at sama sekali. Wallahul musta’an. Ini jelas salah, dan ia dapat digolongkan sebagai orang yang mana disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku.” [2]
Shalat sunnah Ba’diyah Jum’at itu empat ra-kaat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat Jum’at, maka hendaklah dia mengerjakan shalat empat rakaat setelahnya.” [3]
Dan jika mau, dia juga boleh mengerjakan dua rakaat saja. Hal ini didasarkan pada riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar, di mana dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan shalat sunnah setelah Jum’at sehingga beliau pulang, lalu beliau mengerjakan shalat dua rakaat di rumah beliau.” [4]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengata-kan, “Jika mengerjakan shalat sunnah di masjid, beliau mengerjakan empat rakaat. Dan jika me-ngerjakan shalat sunnah di rumahnya, maka beliau mengerjakannya dua rakaat.” [5]
Dan dimakruhkan menyambung shalat Jum’at dengan shalat sunnah Ba’diyah tanpa pemisah antara keduanya, seperti pembicaraan (dzikir) atau keluar dari masjid.
Telah diriwayatkan oleh Muslim dari as-Sa’ib Radhyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mengerjakan shalat Jum’at bersama Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu di dalam maqshurah .[6]
“Setelah imam mengucapkan salam, aku langsung berdiri di tempatku semula untuk kemudian mengerjakan shalat, sehingga ketika dia masuk dia mengutus seseorang kepadaku seraya berkata, “Janganlah engkau mengulangi perbuatan itu lagi. Jika engkau telah mengerjakan shalat Jum’at, maka janganlah engkau menyambungnya dengan suatu shalat sehingga engkau berbicara atau keluar (dari tempatmu), karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan hal tersebut kepada kita, yaitu tidak menyambung shalat Jum’at dengan shalat lainnya sehingga kita berbicara atau keluar.” [7]
[Disalin dari kitab kitab al-Kali-maatun Naafi’ah fil Akhthaa' asy-Syaai’ah, Bab “75 Khatha-an fii Shalaatil Jumu’ah.” Edisi Indonesia 75 Kesalahan Seputar Hari dan Shalat Jum’at, Karya Wahid bin ‘Abdis Salam Baali. Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Diambil dari : aslibumiayu.wordpress.com

Template by:
Free Blog Templates