15 Desember 2012

KEARIFAN LOKAL : YANG INDAH DI MATA MANUSIA TAPI MENDATANGKAN AZAB ALLAH TA'ALA


M
inggu-minggu pada bulan November 2012, penulis sepertinya tergugah kembali kepada kata “kearifan lokal”. Kata itu sangat santer terdengar di era awal tahun 1990-an tatkala orang berbicara masalah-masalah dibidang sosial terutama dalam disiplin ilmu sosiologi dan antropologi. Kala itu ramai-ramainya orang menyebut kata ”globalisasi” sehingga sesuatu yang ada dan berkembang pada masyarakat lokal akan terlibas dengan proses globalisasi. Namun kekhawatiran itu tidak terjadi karena adanya “kearifan lokal” yang tetap bertahan, bahkan menjadi bagian yang bisa berakulturasi dalam intrusi globalisasi dalam suatu wilayah. Dan kini, kata “kearifan lokal” ini terdengar lagi tatkala penulis, menghadiri suatu pertemuan mengenai kebencanaan, penataan ruang, hingga masalah pengelolaan  pesisir, wilayah tertentu hingga daerah perbatasan. Tatkala orang menyebut penanggulangan bencana, orang akan mengaitkan kearifan sosial  dengan keyakinan, kepercayaan dan aqidah masyarakat lokal dengan kekuatan mistik alam, sesaji, Mbah Marijan, penunggu gunung berapi, penunggu pantai, penunggu tempat keramat, yang mbaurekso. Tatkala berbicara mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah, muncullah kearifan lokal berupa penjagaan dan pelestarian terhadap hal- hal yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Tempat pemujaan, kuburan keramat, mata air keramat, tempat upacara ritual adat, makam Mbah Priok, hingga ritual Gunung Kawi , Makam Astana Girigondo  (makam Ibu Tien dan Pak Harto), Makam raja raja Mataram di Imogiri untuk dijadikan kawasan wilayah pengembangan wisata religius. Dan yang tidak kalah heboh, tatkala berbicara pada wilayah pesisir dan tempat tertentu, berbicara kearifan lokal yang di bicarakan : Keyakinan kepada pengelola laut selatan Nyi Loro Kidul, Penguasa Pantai Sumatera hingga seluk beluk adat istiadat melarung sesaji untuk mendapat berkah nelayan sepanjang pantai Indonesia dai Sabang hingga Merauke Papua. Begitu pula kearifan lokal terhadap keyakinan  adanya “penjaga” situ, danau, atau waduk agar masyarakat selamat dari bencana, maka harus ada tradisi kurban, melarung bunga, membakar kemenyan, mandi di tempat tersebut di tengah malam. Demikian, pula tatkala berbicara masalah perbatasan di Pulau Papua maupun Pulau Kalimantan dengan negara asing, maka tidak juga ketinggalan berbicara kearifan lokal dengan tradisi suku Dayak dan berbagai suku di Papua dengan tradisi mereka yang meneruskan nenek moyang mereka yang sarat dengan kepercayaan animisme dan dinamisme yang bersemayan di lingkungan mereka. Lihatlah upacara tradisi mereka yang penuh sesaji dengan wasilah meminta tolong kepada “penjaga hutan”, “penjaga pantai, “penjaga gunung”, “penjaga rawa”. Dan ironisnya lagi menggelikan, hal-hal demikian ini diyakini dan dibenarkan oleh orang-orang yang secara intektual pernah mengecap “menara gading intektual” bernama kampus dan mempunyai gelar profesor doktor. Keyakinan mereka tidak ditunjukkan secara terus terang, melainkan malu-malu - agar tidak disebut intelektual kok percaya pada hal yang klenik atau mistik- dengan memberikan rekomendasi untuk bisa memahami kearifan lokal dan sekaligus mempertahankan eksistesinya.

Kini, yang menjadi pertanyaan sebenarnya apa yang dimaksud dengan kearifan lokal itu sendiri. Lalu, mengapa sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan, kepercayaan dan aqidah masyarakat terhadap kekuatan alam dikaitkan dengan kearifan lokal. Masyarakat modern yang menisbatkan diri sudah tidak mempercayai kepada hal-hal yang bersifat demikian, tetapi masih saja dalam hatinya meyakini hal itu sesuatu yang perlu dipertahankan dan dilestarikan. Juga, apakah dengan mempertahankan berbagai bentuk kearifan lokal  bukan berarti kita mempertahankan dan memelihara sumber-sumber datangnya bencana? Ataukah kita memang sengaja untuk memberikan fasilitas datangnya kehancuran dengan berkedok kepada sesuatu yang di lisan sangat indah “kearifan lokal? ” Tulisan berikut ini mencoba memahami makna dibalik kearifan lokal dikaitkan dengan pintu-pintu datangnya azab Allah kepada manusia dikarenakan manusia selalu membuat sekutu dan pembanding terhadap rabbnya dan sekaligus menentang misi dan visi perjuangan para utusan Allah untuk senantiasa mentauhidkan Allah baik dalam uluhiyah, rubbubiyah dan sama wasifat.

ASAL MUASAL DAN PERKEMBANGAN  KEARIFAN LOKAL.

Pada mulanya, pengertian kearifan lokal berasal dari disiplin ilmu antropologi dengan nama local genius. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Quarritch Wales. Ayatrohaedi (1986) menjelaskan bahwa local genius tidak lain adalah cultural identity atau identitas budaya bangsa. Dan Moendarjito menjelaskan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius. Dengan demikian, kearifan lokal tidak lain  merupakan identitas  suatu bangsa yang berasal dari unsur budaya yang berkembang.

Lebih lanjut I Ketut Gobyah dalam tulisannya “Berpijak pada Kearifan Lokal” menegaskan bahwa kearifan lokal searti dengan produk budaya masa lalu yang patut secara terus menerus dijadikan pegangan hidup. Lebih tegas lagi, Departemen Sosial RI memaknai kearifan sosial bukamlah sekedar nilai tradisi yang mencerminkan lokalitas semata, melainkan tradisi yang mempunyai dayaguna untuk mewujudkan harapan manusia.

Dari pengertian diatas, maka sangat jelas bahwa berbicara kearifan lokal mau tidak mau harus melihat unsur budaya dan tradisi yang ada dalam suatu masyarakat.
Lihatlah bagaimana para pakar yang notabenenya alumni-alumni pendidikan moderen melihat kearifan lokal dengan tradisi dan budaya yang penuh dengan kekuatan mistik, animisme, dinamisme, tahayul dan khurafat. Mereka melihat kearifan lokal dari cerita-cerita mistik legenda-legenda, nyanyian-nyayian, upacara-upacara ritual, kitab primbon dan sejenisnya. Hasil penelitian architecture articles blog menunjukkan bahwa dalam pembangunan pemukiman masyarakat tradisional diseluruh Indonesia sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai kepercayaan tradisional. Misalnya : pemukiman masyarakat di Dusun Sade Lombok memilih tempat yang tinggi karena mereka percaya tentang adanya kekuatan ghaib yang berada di alam atas yang diyakini dapat mendatangkan keselamatan dan kesengsaraan. Rumah yang dibangun tidak boleh menghadap Gunung Rinjani, karena harus berhadapan dengan Dewa Gunung Rinjani yang bagi mereka merupakan Dewa tertinggi yang menguasai Pulau Lombok.

Demikian juga yang terjadi pada pemukiman masyarakat Desa Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur yang masih kental dengan nuansa mistik kerajaan Hindu Majapahit. Pola pemukiman masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh adanya  budaya tradisi animisme dan dinamisme seperti cok bakal, tingkep, among-among, tandur, keleman, wiwit dan bersih desa.

Tidak berbeda dengan bentuk arsituktur bangunan dan pemukiman, dalam pengelolaan lingkunganpun dikenal dengan kearifan lokal yang tidak ketinggalan berbau mistik, tahayul dan khurafat . Perhatikan Kebijakan  "Leuweung Geledegan" yang diterapkan masyarakat Sunda. Masyarakat Pasundan meyakini bahwa barang siapa yang  merambah masuk ke dalam hutan lindung ini, dirinya akan tertimpa mamala, misalnya kesasar atau kalangsu.

Sangat menarik untuk menyimak tulisan Chia Syamsiar dalam tulisannya : Bentuk-Bentuk Kearifan Lokal Dalam Masyarakat Indonesia Sebagai Sumber Gagasan Dalam Berkarya Seni Rupa. Dia menjelaskan bahwa masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan dalam membagun rumah selalu melukis binatang biawak, kadal dan cicak pada pintu-pintu rumahnya sebagai penghalau segala sesuatu yang jahat yang akan memasuki rumah. Karena binatang-binatang itu dianggap penjelmaan nenek moyang mereka. Sementara itu, Masyarakat Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan dan Minangkabau di Provinsi Sumatera Barat, pada atap rumahnya di gambarkan atau dihiasi binatang kerbau, gajah dan kuda karena suku tersebut meyakini binatang tersebut sebagai kendaraan orang yang telah mati. Selain dari sisi bangunan rumah kearifan lokal yang penuh nuansa mistik animisme dan tahayul dinamisme adalah dibidang budaya yang berupa bentuk gunungan pada seni pewayangan di Jawa. Adanya unsur ular dan burung yang menggambarkan keyakinan akan kendaraan tumpangan ruh orang yang mati yang bernaung dalam pohon kehidupan yang ada di tengah gunungan. Selain berbagai  bentuk seni dan arsitektur rumah, kearifan lokal yang masih terpengaruh pada upacara adat, alat transportasi dan berbagai jenis permainan tradisonal. Lihatlah masyarakat Jawa yang masih percaya kepada tahayul dan khurafat dalam permainan jaelangkung, kuda lumping, debus, dimana didalamnya ada unsur kepercayaan pada ruh orang yang meninggal, kerasukan setan, dan pengabdian pada iblis laknatullah.

Dari gambaran dan contoh-contoh kearifan lokal diatas, ditemukan benang merah bahwa kearifan lokal mengandung unsur tradisi, budaya, kepercayaan pada kekuatan selain Allah yang berupa animisme dan dinamisme, yang sudah diyakini oleh nenek moyang dan terus-menerus diyakini oleh generasi berikutnya sehingga berkembang kuat di suatu masyarakat. Kearifan lokal telah menggurita dalam segenap aspek kehidupan dari sosial, arsitek rumah, lingkungan, hingga ekonomi bahkan politik. Baik dari tataran praktis hingga tataran keyakinan dan pola pikir.
KEARIFAN LOKAL: SESUATU YANG DIANGGAP BAIK TAPI POTENSI UNTUK MENGHADIRKAN AZAB RABB MANUSIA.

Tatkala manusia membahas masalah kearifan lokal, seakan kita sedang membicarakan sesuatu yang baik dan bijak dihadapan manusia lain.  Bagaimana tidak disebut berbicara kebaikan, tatkala manusia merencanakan suatu kegiatan maka secara langsung atau tidak akan bersentuhan dengan budaya dan tradisi lokal. Dan pada realitanya, segala yang berhubungan dengan budaya dan tradisi lokal akan terpengaruh dan bahkan hilang tergerus oleh hembusan arus global. Dan kenyataan pula, anak muda sekarang sudah tidak mengenal lagi dengan tokoh-tokoh lokal, permainan lokal, upacara dan ritual lokal, hingga sopan santun dalam pergaulan lokal. Mereka lebih mengenal budaya barat yang modern, canggih, dan kontemporer. Siapapun akan memperoleh gelar pahlawan tatkala  mampu untuk mempertahankan kearifan lokal dalam setiap menyusun kebijakan pembangunan sekaligus mengimplemetasikan dalam lingkungan komunitas global.

Namun demikian, sesungguhnya dibalik usaha manusia untuk tetap mempertahankan kearifan lokal adalah memelihara bara api dalam sekam yang setiap saat akan menghacurkan manusia yang mengurusinya. Kearifan lokal adalah suatu kenyataan yang ada dalam masyarakat yang mengandung kezaliman kepada Allah dan rasulNya, kemaksiyatan, keyakinan kepada kekuatan alam yang penuh kesyirikan, mengamburkan harta, melakukan perkara-perkara yang sia-sia dan tidak menambah keimanan kepada Allah Ta’ala, terus menerus berbuat dosa berlebihan kepada leluhur dan nenek moyang dan perilaku-perilaku yang menyimpang dari al qur’an dan sunnah. Ini semua adalah asal muasal sekaligus asbab yang menyebabkan Allah akan menurunkan azabNya yang amat pedih. Bahkan keraifan lokal tersebut bila dilalukan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari tidak saja mendatangkan kemudharatan dan kesengsaraan selama menjalani hidup di dunia, tapi justru akan mendapatkan azab yang sangat berat di akhirat yang belaku kekal abadi. Jadi, mengapa kita merekomendasikan potensi azab Allah datang kepada manusia yang tinggal di suatu wilayah, dengan kata kearifan lokal? Begitu tegakah hati kita memberikan rekomendasi agar generasi mendatang mendapat azab dan kesengsaraan di dunia dan akhirat dengan dalih kearifan lokal?

Syaikh Yahya al Hajuri dalam kitabnya yang berjudul “Sebab sebab Kehancuran ( As Sabab al Bala’’) menjelaskan bahwa azab Allah akan diturunkan kepada manusia dikarenakan beberapa sebab sebagai berikut :

1. Manusia berlaku zalim

Bentuk-bentuk kezaliman yang mendatangkan azab Allah meliputi kezaliman terhadap rabbnya, kezaliman terhadap manusia lain dan kezaliman terhadap dirinya sendiri. Kezaliman terbesar adalah kezaliman terhadap Allah dan rasulNya. Bentuk kezaliman manusia terhadap Allah adalah membuat berbagai kesyirikan atau tandingan/sekutu baik dalam rububiyah  (yang menghidupkan, yang mematikan, yang memberikan  kenikmatan,yang memiliki), uluhiyah ( dalam penyembahan, dalam bersandar, penghambaan) serta asma’ wasifat ( Allah mempunyai tangan, Allah mempuyai wajah, Allah murka, Allah mempunyai jari-jari, Allah bersemayan di Arsy, dll). Al Qur’an Surat Luqman: 31 Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.

Sedangkan bentuk kezaliman kepada utusan Allah yakni menentang, menselisihi dan mengadakan perlawanan tergadap syariat, perintah dan larangan yang dibawanya.  Hal ini sebagaimana tercantum dalam Surat Yunus : 13. Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, ketika mereka berbuat kezaliman, padahal rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak hendak beriman. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.

Akibat membuat kezaliman terhadap Allah dan rasulNya maka azab itu Allah Ta’ala turunkan dalam bentuk penghancuran kota-kota yang dihuni manusia baik berupa kehancuran gedung-gedung, tidak tersedia makanan, sumur kering lingkungan rusak, sistem hukum, politik, maupun tatanan masyarakat.  Kenyataan ini sebagaimana termaktub dalam :

Surat Al Kahfi : 59 Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.

Surat Al Hajj : 45. Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi.

Surat An Naml : 52. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui.


2. Manusia banyak melakukan kemaksiyatan

Allah Ta’ala akan menurunkan azab kepada hambaNya pada saat hamba tersebut melakukan banyak kemaksiyatan. Dan orang-orang yang suka melakukan kemaksiyatan akan Allah berikan kekuasaan, sehingga kemaksiyatan merajalela terjadi dalam semua aspek kehidupan manusia. Mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa, yang melanggar dan durhaka.

Al  Qur’an Surat Al Isra’ : 16. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Al  Qur’an Surat Al A’qhaaf : 35 Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.

3.Menghabiskan waktu untuk melakukan perkara-perkara yang tidak menyebabkan diri mendekat kepada allah dan menghabiskan harta untuk hal-hal yang tidak disukai allah ta’ala, serta melakukan perbuatan dosa yang berulang-ulang dan terus menerus.

Sadar atau tidak sadar dalam kearifan lokal ketiga unsur ini melekat padanya. Pelaku kearifan lokal secara otomatis membuang waktu yang ada untuk melakukan aktivitas yang sangat bertentangan dengan ketaatan kepada Allah, meski sebagian orang yang menisbatkan diri kyai, ustadz, ulama, habaib, ajengan melabelisasi dengan ritual islami. Pelakunya juga telah menghamburkan harta yang dimiliki bukan dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, melainkan untuk membeli sesajen dan biaya ritual-ritual yang berlangsung. Para pelakunya pun tidak menyadari atau betul-betul menyadari tapi karena syubhat yang melekat pada manhajnya  bahwa yang dilakukan adalah perkara yang tidak disukai Allah Ta’ala sekaligus perbuatan itu berulang setiap saat dan berlaku secara terus menerus dan turun temurun.

Al  Qur’an Surat Al Anbiyya’: 9. Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.

Al  Qur’an Surat Al An ’am: 6 Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.

Al  Qur’an Surat Ad Dukhan: 34-37 Sesungguhnya mereka (kaum musyrik) itu benar-benar berkata, tidak ada kematian selain kematian di dunia ini. Dan kami sekali-kali tidak akan dibangkitkan, maka datangkanlah (kembali) bapak-bapak kami jika kamu memang orang-orang yang benar. Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba' dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa

4. Menjauhkan Diri Kepada  Petunjuk Al Qur’an Dan Sunnah.

Dalam Al Qur’an Surat Muhammad : 16 Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "Apakah yang dikatakannya tadi?" Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka

Al  Qur’an Surat Al An ’am: 26 Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.

Peristiwa yang dialami oleh pengikut Nabi Nuh ‘Alaihi Salam adalah contoh nyata bagaimana Allah turunkan azab kepada orang-orang yang menentang petunjuk al qur’an dan sunnah rasul. Allah tenggelamkan mereka hingga air-air naik sampai puncak gunung dan mengalir dari gunung-gunung itu. Tidak mungkin manusia selamat dan lari dari air tersebut, hingga putri nabi Nuh sendiri berkata :  Al Qur’an Surat Hud 43. Anaknya menjawab: Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!  Nuh berkata: Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

5. Berlebihan dalam beragama dan terhadap orang yang terdahulu
Pemacu azab Allah akan diturunkan kepada manusia adalah bersifat berlebihan dalam beragama dan kepada nenek moyang mereka. Banyak kearifan lokal di Indonesia ini yang dinisbatkan secara islami. Terlebih dalam tradisi-tradisi yang tidak ada contohnya dari rasul, bahkan dari agama luar islampun dilabeli islami oleh sebagian orang yang jahil agama, tapi menisbatkan diri sebagai ustadz atau kyai. Lihatlah upacara haul seorang kyai yang telah meninggal, acara 1 syuro dengan tradisi mandi kembang, hingga maulidan sambil thawah di benteng keraton Yogyakarta, grebegan yang penuh tahayul, bid’ah dan khurafat pada upacara maulidan di kraton Yogyakarta. Semua ini bentuk-bentuk ghuluw kepada tokoh/nenek moyang dan ghuluw dalam beragama. Padahal rasulullah menekankan secara sungguh-sungguh dan keras dalam hadistnya yang sangat masyur : “berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidiin yang telah mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi gerahammu.

Demikian hadist mulia dari Anas bin Malik yang menceritakan 3 orang yang akan melakukan shalat malam terus menerus, akan puasa terus menerus, dan tidak akan menikah karena ingin ibadah terus menerus. Lalu rasulullah bersabda :” Demi Allah, saya tidak melakukan hal ini. Saya berpuasa, saya shalat di malam hari dan saya tidur,  saya makan dan saya menikahi wanita. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku maka dia bukan golonganku

Bahkan secara tegas Allah Ta’ala berfirman orang yang ghuluw dalam beragama bisa menyebabkan pelakunya menjadi tasyabuh kepada nashrani. Dalam Al Qur’an Surat  An Nisa’ : 171. Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu[383], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya[384] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[385]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu.
Dari ayat ini sangat jelas bahwa umat nashrani telah ghuluw menganggap nabi isa sebagai tuhan dan anak tuhan serta ruh kudus. Dan ini sifat yang sangat amat tercela, yakni menyamakan tuhan dengan makhluknya.

Dari pemaparan diatas sangat jelas terpapar bahwa pada kearifan lokal ada unsur tradisi yang berasal dari nenek moyang dan berlaku terus menurus dan turun temurun. Dalam tradisi-tradisi tersebut ada unsur yang berkaitan dengan keyakinan dan aqidah masyarakat  terhadap kekuatan alam, ruh leluhur, kekuatan mistik yang bersifat syirik, tahayul, khurafat. Adanya keyakinan dan kepercayaan tersebut menyebabkan manusia yang berada dilingkungannya harus melakukan acara-acara ritual untuk menghormati penjaga alam tersebut dengan sesaji, kurban,upacara-upacara tertentu dsb. Hal ini jelas mengandung unsur kesyirikan, membuang waktu dan harta untuk sesuatu yang dilarang oleh Allah dan rasulNya, melakukan perbutan dosa yang terus menerus dan turun temurun, menjauhkan diri terhadap petunjuk Al Qur’an dan hadist, serta ghuluw (berlebihan kepada nenek moyang dan agama). Padahal ulama menjelaskan hal-hal inilah yang mendatangkan azab Allah di muka bumi. Maka Mempertahankan Kearifan Lokal tidak lain ibarat menambah simpanan api dalam sekam yang akan menambah potensi azab Allah ta’ala untuk diturunkan di muka bumi. Dan tatkala seseorang berkata menjaga kearifan lokal maka orang lain akan sangat respek dengan menilai sebagai orang yang arif...

Penulis : Abu Nada, 
Bangka Belitung, 14 Desember 2012








Tidak ada komentar: