20 Februari 2012

PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR MENURUT SUNNAH RASULULLAH


oleh : abu nada

I.         PENGANTAR
Air adalah salah satu sumberdaya alam yang Allah Ta’ala ciptakan untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup. Keberadaan air menjadi sangat penting karena makhluk hidup yang ada dimuka bumi tidak akan mampu bertahan hidup selama tidak ada air. Maka Allah Ta’ala telah mensyiratkan bahwa makhluk hidup yang ada dimuka bumi sangat tergantung kepada air. Firman Allah dalam surat Al An'aam: 99.  “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman”.

Selain sebagai kebutuhan pokok yang mendukung kehidupan makhluk hidup, air juga sebagai asal muasal makhluk hidup. Firman Allah dalam surat Al Anbiyaa' : 30 ” Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari aair Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”
Dari Ayat diatas dijelaskan bahwa makhluk hidup yang hidup di muka bumi berasal  dari air. Mengenai pembahahasan tafsir ayat diatas insya Allah akan dibahas pada  penjelasan sub bab berikutnya.
Sebelum membahas permasalahan ayat-ayat kauniyah Allah yang begitu luas dialam raya ini-termasuk masalah air-maka pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah ini harus disandarkan kepada dalil sahih yaitu dalil al qur’an dan sunnah yang sahih ala fahmi sahabah. Penyandaran kepada al qur’an dan sunnah yang sahih sangat penting,  mengingat pada saat ini banyak sekali pemahaman ayat-ayat kauniyah dipahami menurut kemampuan akal dan logika yang dimiliki oleh manusia dengan tidak menaruh perhatian pada firman Allah dan sabda rasulullah. Padahal pikiran dan akal manusia sangat terbatas di banding ilmu Allah Ta’ala, yang pada akhirnya pemahaman tersebut menjadi menyimpang dengan firman Allah dan sabda rasulullah. Demikian juga pamahaman ayat-ayat kauniyah harus berdasar pemahaman sahabat rasulullah. Hal ini karena merekalah yang paling tahu karena  langsung mendapat pendidikan dari rasul, yang paling cinta rasul dan paling paham dengan apa yang dimaksudkan oleh rasul karena hidup kesehariannya dan beribadahnya bersama rasulullah. Berbeda dengan orang jaman sekarang yang hidupnya jauh dari rasul, tentu sudah tidak sama pemahamannya dengan sahabat rasul, sehingga sangat wajar jika kepahaman dan pengamalannya jauh dari contoh rasul. Dan kita wajib hati-hati dan berusaha menghindari mengambil pendapat orang yang demikian sebagai hujjah atau alasan dalam memahami ayat-ayat kauniyah Allah. Tulisan ini diharapkan mampu memberikan sedikit pemahaman tentang bagaimana rasulullah dan sahabat memaknai dan mengelola sumberdaya air untuk kebutuhan hidupnya. Tulisan ini juga diharapkan memberi sedikit pencerahan dari mainstream pemikiran, penerapan dan kebijakan pengeloaan sumberdaya air yang ada selama ini justru jauh menyimpang dari praktek rasulullah dan sahabat, sekaligus mengambil cara-cara yang berasal dari luar islam.

II.    AIR MERUPAKAN SUMBER KEHIDUPAN

Menurut pemahaman ahlul sunnah wal jamaah bahwa air adalah sumber dari kehidupan makhluk hidup. Hal ini sebagaimana tercantum dalam al qur’an sebagai berikut :

a.       Surat Al Baqarah 164 : ”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Menurut Ibnu Katsir  dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 76 : menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan QS. Yassin : 33- 36 :Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” Lalu Allah sebarkan di bumi itu segala jenis hewan  dengan berbagai warna, bentuk, ukuran, kemanfaatan. Allah maha mengetahui dan memberikan rezki, tiada yang samar mengenai hal ini sebagai firman Allah dalam Surat Hud ayat 6 : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

b.       Surat  Ibrahim: 32.: “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

Menurut Ibnu Katsir  dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir Jus 13 halaman 362 menegaskan bahwa : yata ini berkaitan erat dengan Surat Thaahaa : 53 yang artinya : ” Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” Yaitu buah-buahan yang bermacam-macam dan hasil tanaman yang beranekaragam warna, bentuk, rasa, bau dan kemanfaatannya. Juga dalam surat Azzumar 21 dijelaskan rentetan peristiwa air yang menghidupkan tanaman, lalu memberikan warna daun yang berwarna-warni dan sangat indah, lalu mengalami masa kering yang menguning dan mati jatuh ke tanah.Dalam Surat Azzumar : 21 :”Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”
c.       Surat Al An'aam 99: “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

Berdasar ayat diatas sangat jelas bahwa tumbuhan-sebagai salah satu contoh makhluk hidup- telah Allah takdirkan kehidupannya dengan bantuan air. Dari air yang sama, dengan tanah yang sama, Allah berikan air kepada pohon kurma, pohon zaitun, pohon delima, tetapi bentuk daunnya, bentuk pohonnya, warna bunganya, harum bunganya, bentuk buahnya, warna buahnya, rasa buahnya, masa matang buahnya, masa hidup pohonnya, jumlah buahnya masing-masing pohon tidaklah sama. Ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.

Pengambilan contoh tanaman sebagai salah satu mahluk hidup yang sangat membutuhkan air,bukan beararti pembatas bahwa hanya tanaman yang membutuhkan air, melainkan binatang, manusia, mikroba, bakteri dan lainnya juga membutuhkan air. Karena semua makhluk hidup kehidupannya sangat didukung oleh ketersediaan dan keberadaan air. Dan contoh tanaman diatas sangat menakjubkan terhadap kuasa Allah. Coba jika bandingkan kalau manusia atau hewan yang secara fisiografis dan secara geografis dapat melakukan perpindahan dari suatu wilayah dengan wilayah lain, sehingga diketemukan unsur-unsur lain yang membedakan dirinya terhadap yang lain, maka sungguh luar biasa suatu tanaman yang hanya menempati lokasi geografis dan fisografis yang sama tapi banyak perbedaan-perbedaan yang muncul. Subhanallah.

III.            AIR MERUPAKAN ASAL SESUATU

Disamping sebagai sumber kehidupan, air merupakan asal sesuatu makhluk hidup yang ada di muka bumi. Hal ini di asarka kepada dalil sebagai berikut :

a)     Surat Al Anbiyaa' 30: “ Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari aairKami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? “
Dalam menafsiri ayat ini dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir Surat An Anbiyaa’ hal. 13-14, beliau menjelaskan bahwa : bumi dan langit pada awalnya saling sambung menyambung dan bersatu saling numpuk menumpuk diatas bagian lainnya, langit menjadi tujuh dan bumi menjadi tujuh., diantara keduanya dipisahkan oleh udara hingga hujan turun dari langit dan bumi pun menumbuhkan tanaman. Dan dari air maka, Kami jadikan segala sesuatu hidup.

b)     Surat An Nur  45 : “ Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.*
Dari ayat ini menjelaskan bahwa hewan-hewan diciptakan air, baik itu hewan yang berjalan dengan perut seperti ular, cacing, belut, dsb, maupun hewan-hewan yang berjalan dengan menggunakan keempat kakinya seperti kucing, kambing, unta dsb.

IV.            AIR DITURUNKAN KE BUMI SESUAI KADARNYA

Beberapa dalil yang mendasari pendapat ini adalah sebagai berikut :
1)  Surat  Al Mu'minuun 18 : ” Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.”
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir Surat Al Mu’minum menjelaskan bahwa  air yang diturunkan dari langit sudah sesuai kadarnya. Artinya Bahwa nikmat Allah yang diturunkan kepada makhluknya dalam jumlah yang tidak terhingga sampai-sampai tetesan air yang di berikan kepada makhluknya sesuai ebutuhannya, tidak berlebihan, dan tidak selalu sedikit sehingga tidak cukup untuk mengairi tanaman dan buah-buahan, tetapi sesuai apa yang dibutuhkan. Penjelasan ini sejalan dengan Surat Az Zukhruf : 11.

2)  Surat Az Zukhruf 11: “Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”

3)  Surat Al  Qomar : 12 : “Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.”
Dalam menjelaskan hadist ini Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya bab  tafsir Surat al Qomar halaman 7; ayat ini berkaitan dengan Doa Nabi Nuh ‘alaihi salam yang memanjatkan do’a kepada Allah Ta’ala. Kemudian Allah mengabulkan doa tersebut dengan Allah membuka pintu-pintu langit dengan menurunkan air yang tercurah –melimpah banyak  menurut As-Sudi. Selanjutnya, Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemu- lah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan.  Maksudnya Seluruh penjuru bumi memancarkan air, bahkan samapai tempat yang panas sekalipun memancarkan air, mata air, maka bertemu- lah air-air, maksudnya dari langit dan bumi. itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan maksudnya Allah angkat nabi Nuh ke atas batera yang terbuat dari papan dan paku.

V.            AIR UNTUK PELAJARAN BAGI ORANG MUSLIM

Dalam proses peredaran air dan kemanfaatan bagi makhluk hidup, Allah Ta’ala memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang beriman. Karena setiap apa-apa yang Allah ciptakan mengandung hikmah dan bukan perkara yang sia-sia. Dalil-dalil mengenai hal ini antara lain :

a.       Surat An-Ankabut 63: “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” Dari ayat ini secara gambling menjelaskan bahwa hanya karena kehendak dan kuasa Allah ta’ala air yang dari langit bisa turun kebumi. Selanjutnya, dari air yang turun tersebut tanaman dibumi yang tandus bisa tumbuh sehingga bumi tidak mati lagi. Kemampuan ini hanya dapat terjadi karena qodarullah dan maha besar  Allah dan Maha Tinggi ilmu Allah, sehingga sebagai makhluk yang lemah pantas memujinya dengan kalimat  Segala pujian hanya untuk Allah Ta’ala. Suatu doa yang biasa keluar dari seorang muslim tatkala kagum dan ta’jub terhadap kebesaran Allah Ta’ala.

b.       Surat An-Nahl 65: “Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).”
Sejalan ayat 63 Surat An- Ankabut, dalam surat An Nahl 65 menerangkan bahwa turunnya air hujan dan dihidupkan bumi sesudah matinya adalah bukti kebesaran Allah atas segala sesuatu. Dan Kebesaran ini hanya dipahami oleh orang-orang yang oleh Allah beri hidayah untuk memahami ayat-ayat kauniyah. Dan kebesaran ini tidak akan ada dalam diri orang-orang yang Allah Ta’ala telah tutup, hati, telinga dan matanya sehingga pelajaran dari ayat-ayat Allah yang tersirat atau tersurat menambah keimanan dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah. Hal ini sebagaimana, terjadi pada orang-orang yahudi yang oleh Allah diberi kelebihan dalam ilmu tapi tidak menyebabkan mereka semakin bertaqarrub kepada perintah Allah. Melainkan mereka mendustakan perintah Allah dengan mengatakan “Saya mendengar tapi saya tidak mau menjalankan”

c.       Surat Yunus 24 :”Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya[683], dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya[684], tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.”
Imam Ibnu Katsir Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir bab Tafsir Surat Yunus hal 24 – 26 menjelaskan : Surat ini memberikan perumpamaan kehidupan manusia didunia dan perhiasannya yang cepat habis dan sirna, yang Allah ibaratkan tumbuhan yang Allah keluarkan dari muka bumi dengan adanya hujan dari langit, berupa tanaman da buah-buahan yang beraneka ragam dan tanaman yang dimakan ternak yang berupa rumput, tumbuh-tumbuhan dsb. Namun dari jerih payah saat menanam dan telah tumbuh baik dan indah dan tinggal menunggu panen tiba-tiba angin kencang yangdingin dan petir datang menyambar dan membasahi daun-daunya dan merusak buahnya. Selanjutnya Qotadah menjelaskan bahwa: seakan-akan belum pernah tumbuh, yakni belum pernah dinikmati. Demikianlah sesuatu setelah hilangnya, seolah-olah tidak ada.


VI.            PROSES PEREDARAN AIR  DI ALAM RAYA

Teori mengenai peredaran air di alam raya jumlahnya puluhan teori. Dari teori yang berasal dari penganut filsafat hingga yang mengandung unsure syirik. Ada pula yang berasal dari ilmuwan yang bermazhab barat. Namun demikian, semua teori tersebut bukan berasal dari dalil yang sahih yang berasal dari firman Allah ta’ala dan sabda rasulullah. Akan tetapi teori mereka berdasarkan anggapan mistik, hingga permainan logika (ra’yu). Dan inilah yang paling banyak beredar dan dipahami oleh kebanyakan kaum muslimin. Jadi tidak mengherankan bahwa mereka terjebak pada anggapan dan hipotesis aqal dan menganggap aneh terhadap informasi yang diberikan Allah Ta’ala melalui Al Quran dan Sunnah rasulullah. Uraian berikut ini  sedikit memberikan pencerahan pemahaman mengenai proses peredaran air dialam raya yang bersumber dari Al qur’an dan Sunnah ala fahmi sahabat. Informasi yang tidak ada dalam teori peredaran air dialam di luar pemahaman sunnah antara lain : konsep Allah menghidupkan bumi setelah mati, angin mengawinkan awan, Allah menghidupkan jasad dialam akhirat dalam kaitannya pemahaman terhadap hujan, angin dikirim dari syurga, jenis angin yang membuahi awan  dan jenis angin yang membantu pembuahan tumbuhan, mengapa air hujan berasa tawar dan tidak asin sehingga langsung dapat dikonsumsi, serta makna air hujan setiap tahun

Dalam Surat Al A’raaf 57: “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran”.
Dalam menafsiri ayat ini, Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir-nya  8/364 , Ibnu Katsir berkata : Allah mengingatkan hambaNya bahwa Dialah yang memberikan rizki, dan kelak Dialah yang akan membangkitkan orang-orang yang telah mati pada hari kiamat, lalu Alah berfirman : ” Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira” Yakni angin yang bertiup menyebar membawa awan yang mengandung hujan. “sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)” yakni, angin tersebut membawa awan yang mengandung hujan yang ciri khasnya gelap karena berat, penuh air, dan tidak jauh dari permukaan bumi. Lalu dihalau kedaerah yang tandus yang tidak ada tanaman.  Kemudian Allah hidupkan bumi yang telah mati itu, demikian pula Allah hidupkan jasad-jasad setelah tulang belulangnya hancur kelak di hari kiamat. Di hari kiamat nanti Allah akan menurunkan hujan dari langit selama 40 hari.  Maka tumbuhlah jasad dari bumi laksana tumbuhnya bebijian dari dalam tanah.”
Dalam Surat Hijr  22: Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.”
Dalam menafsiri ayat ini, Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir-nya  Juz 14 Surat Al Hijr hal. 26 Ibnu Katsir berkata : angin mengawinkan awan sehingga terjadi pembuahan sehingga awan mengucurkan air dan mengawinkan tumbuh-tumbuhan, maka terbukalah daun-daunnya dan kuntum-kuntumnya.
Al - Ma’sy mengatakan : Angin dikirim, maka angin membawa air dari langit, lalu berlalu seirama geraknya awan dan awan menjatuhkan hujan sebagaimana air susu keluar dari tetekan sapi perahan.
Qotadah mengatakan : Allah mengirimkan angin kepada awan, maka angin membuahinya sehingga awan penuh air. Ubaid Ibnu Umair Al Laisi mengatakan : Allah mengirim ngin suatu kesuburan dalam suatu daerah, maka bumi di daerah itu menjadi subur.Lalu Allah mengirim angin mengarak awan, kemudian mengirim angin yang membawa air sehingga awan mengandung banyak air. Selanjutnya Allah mengirim angin untuk mengawinkan tumbuh-tumbuhan, maka tumbuhan itu menjadi berbuah dengan suburnya. Sebagai firman Allah Surat Al Hijr 22 : Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.”
Ibnu Jarir menukil hadist riwayat Abuhurairah, bahwa rasul bersabda :”Angin selatan berasal dari surga, angin inilah yang disebutkan Allah dalam KitabNya, dan angin ini banyak mengandung manfaat bagi manusia.”
Al Humaidi Dalam Kitab Sunan-nya menukil hadist dari Abu Dzar, rasulullah bersabda :”Sesungguhnya Allah menciptakan angin didalam syurga, yang jaraknya sama dengan perjalanan tujuh tahun, dan sesungguhnya sebelumnya terdapat sebuah pintu tertutup. Sesungguhnya angin yang dating pada kalian berasal dari pintu itu seandainya pintu angin itu dibuka (semuanya),tentulah akan menerbangkan segala sesuatu yang ada diantara langit dan bumi.Angin itu yang ada di sisi Allah dinamakan azib, sedang yang ada diantara kalian adalah angin selatan”.
Selanjutnya Allah berfirman :” lalu Kami beri minum kamu dengan air itu”. Maknanya : Allah menurunkan air hujan dengan keadaan tawar sehingga dapat manusia meminumnya. Selaterusnya :” sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” Maksudnya, bukanlah manusia yang memelihara, melainkan Allah yang memelihara untuk kalian, lalu Allah menjadikan mata air dan sumber air di bumi. Seandainya Allah menghendaki, maka keringlah mata air dan sumber air itu atau bahkan air itu lenyap. Namun Allah dengan rahmanNya, hujan diturunkan dan airnya dijadikan tawar, dan disimpan dalam mata air, sumur, sungai-sungai serta tempat penyimpanan air lainnya, agar mencukupi mereka selama satu tahun, untuk minum mereka dan hewan ternak mereka, serta untuk pengairan lahan pertanian mereka.
Dalam Surat An Nahl 10:” Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan ”
Artinya air hujan diturunkan dalam keadaan tawar sehingga bisa diminum. Selanjutnya dari pengaruh hujan ini menjadikan tanaman tumbuh dan berkembang sehingga dapat dijadikan tempat penggembalaan ternak. Ibnu Majah menjelaskan bahwa rasulullah melarang manusia menggembalakan ternak sebelum matahari terbit.
Dalam Surat t Thariq 11 : “Demi langit yang mengandung hujan” 
Artinya langit memuat hujan dan menurunkannya. Qotadah lebih lanjut menjelaskan bahwa Rizki hamba-hamba Allah ini turun setiap tahun. Seandainya tidak demikian maka mereka dan ternak mereka akan punah.

VII.            PRINSIP PENGELOAAN AIR

1)     Dalam Memanfaatkan air tidak boleh boros tetapi harus hemat
Hal ini sebagaimana dijelaskan Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani rahimallah saat ditanya mengenai seberapa banyak air yang dipergunakan untuk wudhu? Beliau menjawab : ”Sudah sepantasnya menjauhi sifat boros dalam menggunakan air untuk kerperluan wudhu dan mandi, sebab hal ini terlarang berdasar hadist rasulullah : Wudhu cukup dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’. ” (lihat Kitab Ensiklopedi Fatwa Syaikh Albani pada bagian wudhu)

Demikian juga hadist riwayat Aisyah tentang mandi junub.  Dari 'Aisyah ra, dia berkata: 'Saya pernah mandi bersama Rasulullah saw dalam satu wadah. Kami bergantian menciduknya,Beliau sering mendahuluiku dalam menciduk sehingga aku mengatakan: 'Sisakan untukku, sisakan untukku'. Sedang keduanya dalam keadan junub". (Kitab Aadabu az-Zifaf  hal.63 dalam Kitab Ensiklopedi Fatwa Syaikh Albani pada bagian mandi junub)

2)     Air adalah salah satu dari 3 hal yang kepemilikannya bersama, sehingga sangat dilarang untuk dijual dalam rangka kepentingan pribadi.
Dalam hadist Riwayat Abu Dawud dan Imam Ahmad, rasulullah bersabda :”kaum muslim berserikat (sama-sama memiliki) dalam tiga hal yakni rumput, air dan api.”.  Berdasar hadist ini maka sesorang yang menguasai dan menjualnya untuk kepentingan sendiri diharamkan. Namun jika mengelolanya dan memanfaatkan untuk kepetingan kaum muslimin di perbolehkan. Hal ini sejalan hadis riwayat Imam bukhari,t Rasulullah bersabda :”Janganlah kalian menjual belikan air (yang lebih).(Lihat Kitab Syarah Hadist Arbain Penjelasan  42 Hadist Terpenting Dalam Islam, Karya Syaikh Muhammad Bin Shaleh ‘Al -Utsaimin,  Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Hal 454-455)

3)     Dilarang menghalangi air yang berlebihan untuk dimanfatkan bagi yang lain.
Rasulullah bersabda :”Janganlah kalian menghalangi air yang lebih untuk dimanfaatkan, karena itu berarti kalian menghalangi rerumputan dan air.”(Mutafaqun alaih) (Lihat Kitab Syarah Hadist Arbain Penjelasan  42 Hadist Terpenting Dalam Islam, Karya Syaikh Muhammad Bin Shaleh ‘Al -Utsaimin,  Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Hal 453)

4)     Allah tidak akan memberikan karuniaNya di hari akhirat nanti kepada orang yang melarang orang lain memanfaatkan air yang berlebih yangdimilikinya.
Rasulullah bersabda :“ Barangsiapa yang melarang(orang lain untuk memanfaatkan) air atau rerumputan yang lebih (yang dimilikinya), maka Allah akan melarangnya dari KaruniaNya di hari kiamat. ”(HR. Ahmad dalam Kitab Syarah Hadist Arbain Penjelasan  42 Hadist Terpenting Dalam Islam, Karya Syaikh Muhammad Bin Shaleh ‘Al -Utsaimin,  Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Hal 454-455)

5)     Allah tidak akan mengajak bicara, tidak akan memperhatikan, tidak akan disucikan dosa-dosanya serta akan mengazab pada hari kiamat kepada orang yang menguasai sumur dan tidak membolehkan orang lain memanfaatkan air yang berlebih.
Rasulullah bersabda :”Ada tiga golongan manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan diperhatikan dihari kiamat dan tidak disucikan(dosa-dosa mereka) dan mereka akan menerima azab yang pedih, Yaitu seorang laki-laki yang menguasai simpanan air(seperti sumur) di padang pasir dan ia melarang musafir untuk memanfaatkannya, seorang laki-laki yang mengikat janji dengan imam hanya untuk dunia. Jika sang imam meberikan keuntungan duni, maka iapun menaatinya, dan jika sang imam tidak memberinya, maka ia tidak menaatinya dan seorang laki-laki yang menjual barang dagangan kepada orang lain setelah waktu ashar dan ia bersumpah atas nama Allah bahwa ia benar-benar telah membeli barang tersebut seharga sekian dan sekian. Kemudian orang tersebut(calon pembeli) mempercayainya padahal sebenarnya ia berbohong(tidak seperti yang telah dikatakannya).”(Mutafaqun Alaih dalam Kitab Syarah Hadist Arbain Penjelasan 42 Hadist Terpenting Dalam Islam, Karya Syaikh Muhammad Bin Shaleh ‘Al -Utsaimin,  Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Hal 454-455)


VIII.      SISTEM PENGELOAAN AIR

Islam sebagai agama yang telah lengkap dan sempurna mengatur semua perkara-perkara yang menyangkut kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Baik itu perkara-perkara yang membawa pelakunya masuk surge atau sebaliknya, pelakunya masuk neraka. Sebagaimana telah ditegaskan diawal tulisan ini bahwa air adalah kebutuhan makhluk hidup, maka sangat jelas perkara ini menjadi perhatian dalam islam agar manusia yang diberi tugas sebagai khalifah fil ardh mampu melaksanakan tugasnya-termasuk mengelola sumberdaya air- yang dapat memberikan kemanfaatan bagi kehidupan didunia, dan terlebih lagi keselamatan di akhirat nanti. Uraian mengenai system pengelolaan sumberdaya air yang telah dilakukan oleh rasulullah dan sahabat akan penulis paparkan berdasar kitab karya Imam Al Mawardi yang berjudul : Al Ahkam As-Sulthaniyyah,hal 302-314.
Menurut Imam Al Mawardi bahwa air yang diambil dari tanah itu terbagi ke dalam tiga bagian yaitu : air sungai, air sumur dan air yang berasal dari mata air.
1. Air Sungai

Bahwa air sungai terbagai menjadi tiga bagian :

Pertama : sungai-sungai besar yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak digali oleh manusia, seperti Sungai Tigris dan Sungai Efrat. Pengaturan terhadap sungai besar ini yaitu : siapapun boleh mengambil air sungai besar ini, untuk air minum dan kebutuhan hidupnya, untuk irigasi sawah ladangnya termasuk membuat penampungan air di sawah ladangnya.

Kedua : Sungai-sungai kecil yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang terbagai menjadi dua bagian yaitu :

1) Air sungainya banyak. Sistem penggunaan airnya semua penduduk boleh mangambilnya termasuk untuk mengairi sawah ladangnya. Sementara itu, kalau digunakan untuk membuat penampungan air untuk sawah ladang perlu dimusyawarahkan diantara mereka, sehingga tidak merugikan satu sama lain.
2) Air sungainya sedikit sehingga tidak cukup untuk irigasi kecuali ditahan dahulu. Menyikapi permasalahan ini salah satu warga menahannya lebih dahulu untuk mengairi sawahnya, kemudian dilanjutkan ke pemilik sawah dibawahnya dan seterusnya sampai pemilik tanah yang berada di tempat yang paling rendah mendapat bagiannya. Ubadah bin Ash-Shamit meriwayatkan : “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memutuskan irigasi kebun kurma dari aliran air, bahwa tempat yang tinggi diberi irigasi sebelum tempat yang rendah, kemudian ia mengirimkan air kepada tempat yang rendah sesudahnya. Begitulah, hingga air sampai kepada semua tanah (tempat).” (Diriwayatkan Ibnu Majah).

Sedangkan kadar penahanan air di sawah, Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Abu Malik bin Tsa’labah dari ayahnya : Bahwa Rasulullah Shalallahu „Alaihi Wassalam memutuskan tentang lembah Mahzur, hendaknya air ditahan di sawah hingga ketinggian mata kaki. Jika air telah mencapai ketinggian mata kaki, maka air harus dialirkan kepada sawah yang lain”. (Diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Imam Malik mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memutuskan Sungai Bathan juga seperti diatas yaitu dengan ketinggian dua mata kaki. Namun keputusan beliau tersebut tidak bersifat umum untuk seluruh jaman dan tempat, karena segala sesuatunya harus diukur dengan kebutuhannya. Kadar penahanan air di sawah ditentukan lima hal yaitu : perbedaan kondisi tanah, perbedaan tanaman, karena setiap tanaman mempunyai kebutuhan air yang berbeda, perbedaan musim panas dan musim penghujan, perbedaan waktu tanam dan perbedaan kondisi air.

Ketiga : Air sungai yang digali manusia yang menjadi milik bersama. Terhadap sungai yang demikian untuk mengairi sawahnya mereka mempunyai tiga alternatif yaitu : mengairi sawah dengan berdasarkan hitungan jumlah hari, menutup mulut sungai dengan kayu yang dilubangi sehingga air keluar dari lubang sesuai dengan kadarnya dan setiap pemilik sungai menggali didepan sawahnya tempat penampungan air sesuai dengan kesepakatan dan luas sawahnya dan setiap pemilik sungai mempunyai hak yang sama dalam penggunaan air.

2. Sumur

Pembagian air sumur dilihat dari tujuan penggaliannya yaitu :

Pertama, jika digali untuk kepentingan umum dan airnya melimpah, maka semua mempunyai hak yang sama termasuk hewan dan tanaman. Jika airnya tidak cukup untuk ketiganya maka kebutuhan hewan didahulukan daripada kebutuhan tanaman. Jika air sumur tidak cukup memenuhi kebutuhan manusia dan hewan, maka kebutuhan manusia harus didahulukan.

Kedua, jika digali untuk dimanfaatkan tujuan tertentu, maka mereka lebih berhak atas sumur tersebut selama mereka berdomisili dilokasi itu, dan kelebihan airnya harus diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Jika mereka (para penggali) meninggalkan lokasi tersebut maka sumur tersebut menjadi milik umum. Jika mereka kembali lagi ke lokasi tersebut, maka kedudukannya sama dengan yang lain atas sumur itu, dan yang lebih dahulu tiba dilokasi, dialah yang lebih berhak.

Ketiga, jika digali untuk kepentingan pribadi dan keluar airnya, maka sumur tersebut menjadi miliknya dan sebaliknya, sehingga mempunyai wewenang penuh untuk memanfaatkan air sumur tersebut. Namun menurut riwayat dari Al-Hasan bahwa ada seseorang yang membutuhkan air datang kepada pemilik air untuk meminta air, tetapi pemilik air tersebut tidak memberinya air hingga peminta air tersebut meninggal dunia, maka Umar bin Khathab Radhiyallahu’anhu mewajibkan pemilik air tersebut membayar diyat (ganti rugi). Abu Az-Zanad meriwayatkan dari Al-‘Araj dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “ Barangsiapa manahan kelebihan airnya, Allah menahan kelebihan rahmat-Nya pada hari kiamat”. Berdasarkan pendapat para fuqaha, maka memberikan kelebihan air sumur menjadi wajib hukumnya, apabila memenuhi empat syarat sebagai berikut :

1)     Kelebihan air berada di dasar sumur, jika ia telah mengambilnya, maka tidak harus memberikan kepada orang lain.

2) Lokasi sumur berdekatan dengan padang gembalaan, jika lokasi sumur jauh dari padang gembalaan, tidak wajib memberikan kelebihan air.

3)   Hewan ternak tidak mendapatkan sumur lain selain sumur tersebut.

4)  Kedatangan hewan ternak tersebut tidak menimbulkan kerusakan tanaman dan hewan ternak itu sendiri.

Apabila keempat syarat tersebut dipenuhi, maka seseorang wajib memberikan kelebihan airnya dan haram memungut uang dari air yang diberikannya tersebut.

Hal yang sangat penting untuk diketahui bahwa untuk menjaga keamanan sumur dari berbagai kotoran yang masuk kedalamnya dan mencegah datangnya bahaya bagi makhluk hidup ciptaan Allah, maka perlu dibuatlah pagar. Namun demikian, pembuatan pagar tidak boleh sembarangan melainkan ada aturan yang oleh rasulullah contohkan. Rasulullah bersabda: ‘pagar sumur itu sebesar empat puluh hasta dari sekitarnya semuanya adalah untuk berendam unta dan kambing (HR Imam Ahmad 2/494 dalam Kitab Silsilah Hadist Sahih Albani Buku II/251)

3. Mata Air

Mata air dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

Pertama, mata air yang dimunculkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang tidak digali manusia. Menyikapi tentang pemanfaatan mata air jenis ini, maka hukum pemanfaatan mata air tersebut sama dengan hukum terhadap sungai-sungai yang diciptakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala;

Kedua, mata air yang digali manusia, maka mata air tersebut menjadi milik penggalinya termasuk lahan di sekitar mata air. Menurut Abu Hanifah mengatakan bahwa batas mata air ialah lima ratus hasta, sehingga penggali berhak mengaliri tanah dalam batasan tersebut. Sedangkan Imam Syafi’i mengatakan bahwa hak atas mata air tersebut ditentukan menurut tradisi yang berlaku dan kebutuhan masing-masing orang;

Ketiga, mata air digali seseorang diarea miliknya, maka ia berhak atas air tersebut. Jika airnya hanya cukup untuk memenuhi dirinya, maka tidak wajib memberikan kepada orang lain. Namun jika airnya lebih dan ingin digunakan untuk menghidupkan tanah yang mati, maka ia berhak atas kelebihan air tersebut. Dan jika kelebihan air tersebut tidak digunakan untuk menghidupkan tanah yang mati, maka wajib diberikan kepada orang lain yang membutuhkan termasuk untuk hewan ternak dan tanaman serta diperbolehkan mendapatkan imbalan.
Lokasi pertambangan yang terlihat, seperti garam, minyak, air dan lain-lain tidak boleh diberikan secara perorangan. Semua manusia mempunyai hak yang sama terhadapnya dengan mengambilnya ketika berada di lokasi pertambangan tersebut. Dalam suatu riwayat Tsabit bin Sa’id meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya bahwa,” Al-Abyadz bin Hammal meminta Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memberinya lokasi garam di Ma’rab, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memberikannya. Al’Aqra bin Habis As-Sulami berkata,” Wahai Rasulullah sesungguhnya aku ke lokasi garam tersebut pada masa jahiliyah. Garam tidak ditemukan selain di lokasi tersebut. Barangsiapa datang ke lokasi garam tersebut maka dia berhak mengambil garamnya. Garam tersebut seperti air yang mengalir terus menerus (al-ma’u al iddi), disuatu daerah Al-Aqra meminta Al-Abyadz meminta mengundurkan diri dari kepemilikan lokasi garam tersebut. Al-Abyadz berkata,”Sungguh aku akan melepaskan kepemilikan atas garam tersebut, namun engkau jadikan sebagai sedekah atas namaku”. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda “Garam tersebut adalah sedekah darimu. Lokasi garam tersebut seperti air yang mengalir terus menerus, siapa datang kepadanya, ia berhak mengambilnya”. (Diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah). Berdasarkan hadits diatas menurut Abu Ubaid, istilah Al-ma’u al iddi diartikan sebagai air yang terus menerus mengalir sehingga melimpah ruah, maka penerima pemberian lokasi pertambangan mempunyai hak yang sama dengan orang lain yang membutuhkan.

 


Muraja’ah :
1.       Al qur’an digital
2.       Ibnu Katsir, Tafsir ibnu Katsir versi pdf
3.       Muhammad Nashiruddin Albani, Ensiklopedi Fatwa Syaikh Albani
4.       Muhammad Nashiruddin Albani Kitab Silsilah Hadist Sahih Albani Buku II/251
5.     Kitab Syarah Hadist Arbain Penjelasan  42 Hadist Terpenting Dalam Islam, Karya Syaikh Muhammad Bin Shaleh ‘Al -Utsaimin,  Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Hal 454-455
6.       Al Ahkam As-Sulthaniyyah, Imam Al Mawardi 

Tidak ada komentar: