29 April 2015

TATKALA AHLUL SUNNAH BERDALIL


PENGANTAR :

Seringkali diantara seorang muslim mendengar perkataan’kenapa membacakan alqur’an dikuburan tidak boleh? Bukankan membaca al quran untuk orang yang mati adalah kebaikan? Atau tatkala ada orang yang baru pindah rumah lalu mengadakan acara syukuran dengan disertai ritual baca surat yasin dan shalawatan, saat ditanya apa yang mendasari perbuatan tersebut, maka mereka akan bertanya balik : “apakah salahnya membaca surat yasin dan shalawatan saat saya pindah rumah?” Dan masih banyak amalan-amalan yang serupa, tapi tatkala ditanya dasar atau alasan dalilnya jawabannya menurut pikiran atau perasaan pribadi. Jauh meninggalkan dari Sunnah yang dijarkan Allah, rasulNya, dan amalan para tiga generasi terbaik umat ini.
Nah dalam uraian berikut, akan diuraikan dan dibahas secara lebih rinci, bagaimana sih sesorang itu berhujjah dakam setiap amalan sehari-hari. Karena amalan yang tidak ada hujahnya maka kita akan terjatuh pada perbuatan dosa. Sedang kalau berhujah tidak mengikuti hujahnya rasulullah dan para sahabat maka kita akan masuk kedalam amalan yang salah dan tertolak..

BEDA CARA BERDALIL ANTARA AHLUL SUNNAH DENGAN AHLUL BIDA’

Manfaat  dari memahami perkara ini  adalah tatkala mendapati permasalahan agama, maka ahlul sunnah dalam manhaj ini mampu membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Dengan demikian siapapun yang yang keluar dari manhaj ini, yakni yang keluar dari hujjah yang sahih  berarti mengada ada dalam agama.
Syaikh Anis Bin  Hadzir  berkata : jika kalian mendapati suatu permasalahan dalam masalah agama maka ambillah  3 jalan yakni, pertama, mengumpulkan semua dalil yang ada dalam permasalahan tersebut baik dalam al qur an atau as sunnah, kedua yakni mencari dalil dalil yang sahih yang dapat dipergunakan untuk permasalahan tersebut, tinggalkan yang lemah, ketiga, mencari dalil yang paling cocok dalam permasalahan ini. Hal ini sangat penting karena ada sebagian orang salah dalam penempatan dalil. Contoh : dzikir berjamaah yaitu  dipimpin oleh seseorang lalu yang mengikuti. Dia menggunakan hadist lemah dengan alasan faidhatul amal. Memang sebagian ulama boleh menggunakan hadist lemah berkaitan dengan faidhatul amal. Tapi pendapat ini banyak kelemahannya. Diantaranya :  hadist lemah tidak bisa dijadikan hujjah atau dijadikan sandaran hukum dengan alasan : pertama, hadis yang diterima, hadist sahih, lighairi, hasan. alasan kedua : mencari hadis hadis sahih. Hadist sahih sudah mencukupi kenapa cari yang lemah, Alasan ketiga: tidak ada manfaatnya ulama membuat perbedaan hadis hadist. Alasan keempat, ulama:  jumhur yang mengatakan boleh tapi dengan  syarat harus bersandarkan hadist sahih. Alasan kelima, ketika mengamalkan hadist lemah harus meyakini nabi tidak melaksanakan.

KONSEP AHLUL SUNNAH  DALAM  BERDALIL

 1.  Ahlul sunnah berdalil sangat memegang dalil syar'ii dari Allah dan Rasul. Dan sering dituduh tekstual,  islam adalah tauhid yakni satu satunya yang berhak disembah yakni Allah, tunduk patuh kepada Allah semata, berlepas diri dari syirik dan pelakunya  Qs Azzumar : 54 (Kitab Tauhid Muhammad Bin Abdul Wahab) Qs Annur ( 51-56) menjelaskan orang islam jika diajak kembali kepada Allah maka hanya berkata samina wa ataqna.
Ibnu mas ud berkata : kembali kedalam kebenaran lebih baik daripada tetap dalam kebatilan. Qs Annisa' 65: Demi tidak sama sekali, sampai kamu menjadi hakim dalam perkara, hingga mereka tidak menerima dengan keberatan.
Contoh bagaimana para salafush shalih mengagungkan dalil dalil dari Allah : sabda nabi : seluruh sifat malu adalah kebaikan. Lalu Busyail bin Kabail : kita mendapati sifat malu dalam kitab -kitab hikmah itu wibawa tapi dalamnya terdapat kelemahan. Imran marah lalu berkata rasul  sifat malu adalah kebaikan lalu berkata : aku tidak ingin sekali kali melihat kamu bicara menentang rasul tatkala aku membaca hadist hadist rasul. Dan diulangi berulang ulang. Hingga temannya berkata. Dia bukan munafik.

Rasul bersabda jangan kalian larang istri- istri ke masjid untuk shalat jamaah di masjid. Bilal Abdullah Bin Umar. Demi Allah kami melarang istri istri kami pergi ke masjid. Lalu abdillah berkata langsung mencaci maki anaknya dengan cacian yang buruk. Wahai anakku aku lagi berkata kepada kalian lalu kamu tentang.

Abdullah Bin Abbas , rasul tatkala haji mengerjakan tamatuk, lalu abu zubair berkata, abu bakar dan Umar melarang haji tammatu'. Abdullah berkata : aku melihat kalian akan binasa tatkala perkataan rasul kalian pertentangkan dengan umar dan abu bakar. Bakr Abdillah Bin Usain : berkata abu bakar tidak pernah disiksa, dan di janjikan syurga, tapi orang kaya dan tidak disiksa tapi keimanan mereka melebihi  sahabat lain yang disiksa. Abu baka tidak terkenal  karena banyak ibadah, tapi karena keimanan hati mereka.

seorang berkata kepada azh zhuhri : wahai abu bakar, hadis rasul berbunyi, bukan dari kami yang memukul pipi ''lalu al zuhri menundukkan muka dengan lama lalu berkata ilmu dari Allah, rasul menyampaikan dan kita mengimani.
Ibnu Qoyim berkata : asal fitnah ada dua yakni fitnah syubhat dan fitnah syahwat.

2.     Mereka sangat teliti dalam mengamalkan sunnah. Abdurazzaq meriwayatkan dalam kitab as shallah, said ibnu musyaid pernah melihat seseorang shalat setelah adzan subuh lebih dua rakaat. Lalu ditanyakan kenapa melakukan itu, lalu di jawab : apakah Allah akan menyiksaku saat aku shalat? Sayid menjawab, Allah tidak menyiksamu karena shalat, tapi menyiksamu karena melanggar sunnah.
Pernah sesoorang bertanya pada Imam Malik, wahai imam abu abdillah, dari mana aku berihram, imam malik menjawab mulai dari miqod, lalu berkata lagi, wahai imam malik aku mau miqod di makam rasulullah, dijawabnya, aku takut kamu kena fitnah dan dosa. Di jawab, aku hanya menambah beberapa jarak. Imam malik berkata : dosa apalagi yang lebih besar daripada kau mendahului amalan yang tidak dilakukan rasulullah. Kalau itu baik nisacaya mereka yang mendahului. QS Annur : 62 dijelaskan  hati hati yang menselisihi rasul tidak akan diterima amalannya di dunia dan akhirat. Hati hati menselisihi sunnah rasul, karena akan disegerakan siksanya

3.     Memakai dalil sahih dalam beramal dan menghindarkan memakai dalil dalil yang lemah

Kajian ini disampaikan oleh : Ustadz Ahmad Zaenuddin, Masjid Assunnah Bintaro , 10 April  2015


Tidak ada komentar: