27 April 2010

Kecemburuan Dalam Rumah Tangga Poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Judul: Kecemburuan Dalam Rumah Tangga Poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Oleh: Ustadz Abu Ammar al-Ghiyami hafizhahullah
Sesuatu yang telah dimaklumi bersama bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dalam rumah tangga poligami. Namun apakah juga telah dimaklumi bahwa di rumah-rumah para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terdapat kecemburuan?
Semoga beberapa riwayat berikut ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pasutri yang hendak hidup di dalam rumah tangga poligami maupun bagi pasutri yang telah beberapa waktu mengarungi rumah tangga poligami, khususnya tentang bagaimana mengelola kecemburuan.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shohihnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa dia berkata: “Aku tidaklah cemburu terhadap salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana kecemburuanku terhadap Khodijah radhiyallahu ‘anha. Yang demikian itu sebab seringnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dan memujinya. Telah diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar beliau memberinya kabar gembira dengan sebuah rumah miliknya kelak di surga yang terbuat dari pipa-pipa batu permata.” [HR.al-Bukhari 5229]
Perhatikan bagaimana Aisyah radhiyallahu ‘anha cemburu terhadap Khodijah radhiyallahu ‘anha meski dia sudah tiada dan tak lagi bersamanya di sisi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun seringnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut dan memujinya merupakan penetapan besarnya cinta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya radhiyallahu ‘anha. Perhatikan pula bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memaklumi ‘Aisyah atas kecemburuannya tersebut yang merupakan sifat bawaannya. [1]
Juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada (dirumah) salah seorang istri beliau. Maka salah seorang ummahatul mukminin (para istri Nabi yang lain) mengutus (seorang pelayan) dengan sepiring makanan. Maka (istri) yang Nabi berada dirumahnya menampar tangan pelayan tersebut sehingga piring pun jatuh tertelungkup dan pecah (menjadi dua bagian). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengumpulkan dua pecahan piring dan mengumpulkan makanannya di dalamnya, seraya berkata, “Ibu kalian cemburu.” Lalu beliau menahan pelayan tersebut sehingga diberilah ia piring milik istri yang beliau ada dirumahnya, dan menyerahkan piring yang utuh kepada yang punya piring yang dipecahkan, dan menahan yang pecah di rumah istri yang (piring tersebut) pecah disana. [HR.al-Bukhari 5225]
Istri Nabi yang mengirimkan makanan ialah Zaenab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha, sedangkan yang memecahkan piring ialah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[2]
Kisah serupa seperti yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i, dari ummul mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa dia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang bersama beberapa sahabat beliau, dengan membawa makanan di sebuah piring miliknya. Maka datanglah ‘Aisyah dalam keadaan bersarungkan sebuah selimut lebar sambil membawakan batu sebesar genggaman tangan lalu ia memecahkan piring tersebut dengannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengumpulkan dua belah pecahan piring tadi seraya bersabda: “Makanlah, ibu kalian sedang cemburu.” Beliua mengucapkannya dua kali. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sebuah piring ‘Aisyah dan mengutus seseorang untuk membawanya ke Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan piring Ummu Salamah (yang pecah) buat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. [HR.an-Nasa'i 3973, dishohihkan oleh al-Albani dalam Irwa'ul Gholil 5/360]
Perhatikanlah kisah dalam dua hadits di atas. Pada hadits pertama di atas hanya disebutkan julukan kemuliaan saja, yaitu ummum mukminin, tidak disebutkan nama mereka. Hal ini tidak mempermaklumkan kecemburuan yang ada di antara mereka dari salah satu mereka terhadap salah satu yang lainnya, para madunya, dari para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.
Perhatikan juga bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempermaklumkan kejadian yang ada di antara para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa kecemburuan, dengan sabda beliau secara terang-terangan kepada para sahabat yang bertamu di rumah beliau saat itu. begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mempermaklumkan agar apa yang terjadi di antara para istri berupa kecemburuan itu tidak dicela karena memang tidak tercela. Kecemburuan merupakan hal biasa yang terjadi di antara para istri terhadap madunya. Itu muncul sebab dorongan jiwa yang tidak mungkin ditolak.
Perhatikan pula bagaimana bagus dan baiknya akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, keadilan serta kelemahlembutan beliau menghadapi para istri yang saling cemburu. Sedikit pun beliau tidak menghardik ‘Aisyah, tidak pula istri beliau yang mengirimkan makanan, meski dengan sedikit ucapan, sebab semua hanyalah kecemburuan. [3] Lebih dari itu, semua itu menunjukkan betapa mereka semua sama-sama mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tersirat dalam bentuk yang paling lembut dalam perhatian yang sangat serta kecemburuan mereka untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [4]
Juga diriwayatkan oleh Yahya bin Abdirrahman bin Hathib radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa bubur berdaging yang telah kumasak buat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di antara aku dan Saudah radhiyallahu ‘anha, aku katakan kepada Saudah: “Makanlah.” Tapi dia enggan. Aku katakan: “Kamu mau makan atau akan kubalurkan ke wajahmu.” Dia tetap enggan. Maka aku tempelkan tanganku di bubur tersebut kemudian aku balur wajahnya, sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa (kepadaku). Lalu beliau meletakkan (bubur tersebut) untuknya (Saudah radhiyallahu ‘anha) seraya berkata: “(Sekarang ganti) balurlah wajahnya.” Dan tertawalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya (Saudah). Tiba-tiba lewatlah Umar radhiyallahu ‘anhu sambil menyeru: “Wahai Abdullah, Wahai Abdullah (yakni anaknya).” (Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyangka bahwa dia akan masuk, sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berdirilah kalian berdua, lalu basuhlah wajah kalian.” ‘Aisyah berkata: “Terus-menerus aku segan terhadap wibawa Umar karena kewibawaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” {HR.Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya 4/261 dengan sanad hasan]
Perhatikan indah dan mesranya kehidupan rumah tangga poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meski dengan keseganan dan akhlak yang mulia, tetap saja kecemburuan yang menjadi bumbunya menjadikan keadaan lebih terasa keindahannya.
Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari al-Qoshim bin Muhammad dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila (hendak pergi) keluar adalah mengundi di antara para istri beliau. Tatkala itu undian jatuh pada giliran ‘Aisyah dengan Hafshoh, dan keluarlah mereka berdua bersama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melakukan perjalanan di malam hari, (beliau) bersama ‘Aisyah sambil berbincang-bincang bersamanya.[5] Maka suatu saat berkatalah Hafshoh kepada ‘Aisyah.” Apakah tidak sebaiknya malam ini kamu menunggangi untaku dan aku menunggangi untamu sehingga kamu bisa memandangi dan aku pun bisa memandang?!” ‘Aisyah berkata: “Baiklah”. Sehingga ‘Aisyah menunggangi unta Hafshoh dan Hafshoh menunggangi unta ‘Aisyah. Tatkala demikian , datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke unta ‘Aisyah sedangkan yang diatasnya adalah Hafshoh. Beliaupun bersalam kemudian berjalan bersamanya sampai suatu tempat persinggahan. Dan ‘Aisyah kehilangan beliau maka cemburulah ia. Tatkala telah turun dan singgah di suatu tempat tersebut, ‘Aisyah pun menyusupkan kakinya ke dalam semak-semak seraya bergumam (karena sangat cemburunya): “Ya Robbi, sengatkan kepadaku seekor kalajengking atau gigitkan kepadaku seekor ular. Rasul-Mu, sungguh aku tak kuasa berkata-kata sesuatu pun kepadanya.” [HR.Muslim 2445, juga Bukhari 5211 dan an-Nasa'i 46]
Allahu Akbar. Perhatikan begitu indahnya keluarga poligami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah bagusnya pergaulan beliau terhadap para istri beliau, bagusnya akhlak beliau dan keadilannya terbukti dengan undian di antara istri. Seperti inilah kewajiban para suami yang memadu istri. Bila hendak keluar bepergian dan hendak mengikutsertakan salah seorang istri, maka harus mengundi di antara para istri siapa yang akan menemaninya.[6]
Perhatikan juga bagaimana para istri beliau, ‘Aisyah dan Hafshoh yang saling cemburu. Sampai karena begitu besarnya kecemburuan mereka berdua, Hafshoh pun membuat taktiknya untuk mendapatkan perhatian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang pernah didapati oleh ‘Aisyah, madunya. Dan perhatikan kecemburuan istri teladan ini. Meski sangat cemburu, ‘Aisyah hanya bergumam dengan apa yang telah dia gumamkan. Ia menahan diri dari emosi di hadapan kemuliaan, keagungan, dan kewibawaan suaminya shallallahu ‘alaihi wa sallam
Wallahu A’lam. semoga bermanfaat.
Note:
[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqolani 15/4828
[2] Ibid, 7/2301
[3] Ibid
[4] Hasyyiah as-Sindi alan Nasa’i 7/3950
[5] Ini adalah tatkala dalam perjalanan, maka bagian para istri ialah saat istirahat, bukan saat sedang dalam perjalanan. Maka dalam hal ini tidak termasuk keadilan dalam jatah bermalam, sebab dalam perjalanan bukan sedang istirahat singgah di suatu tempat. [Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqolani 9/311]
[6] Syarah Muslim, Imam an-Nawawi rahimahullah, 8/4477
Sumber: diketik ulang dari Majalah al Mawaddah Edisi ke-7, Tahun ke-3, Shofar – Robi’ul Awwal 1431 H, Februari 2010, Hal.29-30

Tidak ada komentar: